Halaman

Minggu, 10 Agustus 2014

Asal Mula Nama INDONESIA


Sejarah nama Indonesia
Nama Indonesia berasal dari berbagai rangkaian sejarah yang puncaknya terjadi di pertengahan
abad ke-19. Catatan masa lalu menyebut kepulauan di antara Indocina dan Australia
dengan aneka nama, sementara kronik-kronik bangsa Tionghoa
menyebut kawasan ini sebagai Nan-hai ("Kepulauan Laut
Selatan"). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai
kepulauan ini Dwipantara ("Kepulauan Tanah Seberang"), nama
yang diturunkan dari kata dalam
bahasa
Sanskerta
dwipa (pulau) dan antara
(luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki
menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa ("Pulau
Emas", diperkirakan Pulau Sumatera sekarang) yang terletak di Kepulauan
Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut
wilayah kepulauan itu sebagai Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan
Jawa). Nama Latin
untuk kemenyan,
benzoe, berasal dari nama bahasa Arab,
luban jawi ("kemenyan Jawa"), sebab para pedagang Arab
memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang
dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering
dipanggil "orang Jawa" oleh orang Arab, termasuk untuk orang Indonesia
dari luar Jawa sekali pun. Dalam bahasa Arab juga dikenal nama-nama Samathrah
(Sumatera), Sholibis (
Pulau Sulawesi), dan Sundah
(Sunda) yang
disebut kulluh Jawi ("semuanya Jawa").
Bangsa-bangsa
Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang
Arab, Persia,
India, dan Tiongkok. Bagi
mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia.
Jazirah Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia
Tenggara
dinamai "Hindia Belakang", sementara kepulauan ini
memperoleh nama Kepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian
Archipelago
, l'Archipel Indien) atau Hindia Timur (Oost
Indie
, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang kelak
juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel,
Malay Archipelago, l'Archipel Malais). Unit politik yang berada
di bawah jajahan Belanda memiliki nama resmi Nederlandsch-Indie (Hindia-Belanda).
Pemerintah pendudukan Jepang
1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur) untuk
menyebut wilayah taklukannya di kepulauan ini.
Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal
dengan nama samaran Multatuli, pernah memakai nama yang spesifik untuk
menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu "Insulinde", yang
artinya juga "Kepulauan Hindia" (dalam bahasa
Latin
"insula" berarti pulau). Nama "Insulinde"
ini selanjutnya kurang populer, walau pernah menjadi nama surat kabar dan
organisasi pergerakan di awal abad ke-20.






http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/6/65/Ki_hajar_dewantara2.jpgNAMA INDONESIA

Ki
Hajar Dewantara, salah satu pribumi yang pertama kali menggunakan nama
Indonesia ketika mendirikan sebuah biro
pers dengan nama Indonesische
Persbureau
.

Pada tahun 1847 di Singapura
terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal
of the Indian Archipelago and Eastern Asia
(JIAEA, BI:
"Jurnal Kepulauan Hindia dan Asia Timur")), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia
yang meraih sarjana hukum
dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli
etnologi bangsa Inggris,
George Samuel
Windsor Earl
(1813-1865), menggabungkan
diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA
volume IV tahun 1850,
halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the
Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations
("Pada Karakteristik
Terkemuka dari Bangsa-bangsa Papua, Australia dan Melayu-Polinesia").
Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk
Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a
distinctive name
), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan
penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia
atau Malayunesia ("nesos" dalam bahasa
Yunani
berarti "pulau"). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis
(diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa
Inggris
):
"... Penduduk Kepulauan
Hindia atau Kepulauan Melayu masing-masing akan menjadi "Orang
Indunesia" atau "Orang Malayunesia"
".
Earl sendiri
menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia
(Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan
Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (sebutan Srilanka saat
itu) dan Maldives (sebutan asing untuk Kepulauan Maladewa). Earl
berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam
tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai
istilah Indunesia.
Dalam JIAEA Volume
IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology
of the Indian Archipelago
("Etnologi dari Kepulauan Hindia").
Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan
tanah air kita, sebab istilah Indian Archipelago ("Kepulauan
Hindia") terlalu panjang dan membingungkan. Logan kemudian memungut nama
Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o
agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. [1]
Dan itu membuktikan bahwa sebagian kalangan Eropa tetap meyakini bahwa penduduk
di kepulauan ini adalah Indian, sebuah julukan yang dipertahankan karena sudah
terlanjur akrab di Eropa.
Untuk pertama
kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam
tulisan Logan (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):
"Mr Earl menyarankan
istilah
etnografi "Indunesian", tetapi
menolaknya dan mendukung "Malayunesian". Saya lebih suka istilah
geografis murni "Indonesia",
yang hanya
sinonim yang lebih pendek untuk
Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia
"
Ketika mengusulkan
nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari
nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten
menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan
lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. [1]
Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf
Bastian
(1826-1905) menerbitkan buku Indonesien
oder die Inseln des Malayischen Archipel
("Indonesia atau Pulau-pulau
di Kepulauan Melayu") sebanyak lima volume, yang memuat hasil
penelitiannya ketika mengembara di kepulauan itu pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian
inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana
Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia"
itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam
Encyclopedie van Nederlandsch-Indië tahun 1918. Pada
kenyataannya, Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari
tulisan-tulisan Logan.
Pribumi yang
mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat
(Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri
Belanda tahun 1913
ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau. Nama Indonesisch
(pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai
pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan
dengan itu, inlander
("pribumi") diganti dengan Indonesiër ("orang
Indonesia")..

POLITIK


Pada dasawarsa 1920-an, nama
"Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi
itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga
nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas
suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai akibatnya, pemerintah
Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. [1]
Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad
Hatta
, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi
Ekonomi) di Rotterdam,
organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun
1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau
Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama
menjadi Indonesia Merdeka.
Bung Hatta
menegaskan dalam tulisannya,
"Negara Indonesia Merdeka
yang akan datang (
de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil
disebut "Hindia-Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab
dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia
menyatakan suatu tujuan politik (
een politiek doel), karena melambangkan
dan mencita-citakan suatu tanah air pada masa depan, dan untuk mewujudkannya
tiap orang Indonesia (Indonesiër) akan berusaha dengan segala tenaga dan
kemampuannya.
"
Di Indonesia Dr. Sutomo mendirikan Indonesische
Studie Club
pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama
menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun
1925 Jong Islamieten Bond
membentuk kepanduan Nationaal
Indonesische Padvinderij
(Natipij). Itulah tiga organisasi di
tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama
"Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa, dan bahasa
pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober
1928, yang kini
dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.
Pada bulan Agustus
1939 tiga orang
anggota Volksraad
(Dewan Rakyat; parlemen Hindia-Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo,
dan Sutardjo
Kartohadikusumo
, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar
nama Indonesië diresmikan sebagai pengganti nama
"Nederlandsch-Indie". Permohonan ini ditolak. Sementara itu, Kamus Poerwadarminta
yang diterbitkan pada tahun yang sama mencantumkan lema nusantara
sebagai bahasa Kawi untuk "kapuloan (Indonesiah)".
Dengan pendudukan
Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia-Belanda". Pada tanggal 17 Agustus
1945, menyusul
deklarasi Proklamasi Kemerdekaan, lahirlah Republik Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar