BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan adalah
usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan,
pengajaran atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Pendidikan
mempunyai posisi strategis dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya
manusia. Posisi yang strategis tersebut dapat tercapai apabila pendidikan yang dilaksanakan mempunyai kualitas.
Kualitas pendidikan dapat diketahui dari dua hal, yaitu
: kualitas proses dan produk (Sudjana, 2000: 35).
Suatu pendidikan dikatakan berkualitas proses apabila proses
belajar mengajar (PBM) dapat berlangsung secara efektif dan peserta didik
mengalami proses pembelajaran yang bermakna. Pendidikan disebut
berkualitas produk apabila peserta didik
menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas-tugas belajar sesuai dengan
sasaran dan tujuan pendidikan. Hal ini dilihat
pada hasil belajar yang dinyatakan dalam proses akademik Kemampuan guru dalam
mengajar banyak berpengaruh terhadap keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan,
artinya keterlibatan guru secara langsung dalam proses belajar mengajar sangat
menentukan keberhasilan proses pendidikan. Dalam menyajikan materi pelajaran
dapat digunakan pendekatan dan metode yang dapat memudahkan siswa dalam
belajar.
Salah satu contoh dalam menyajikan materi pelajaran ips dapat digunakan
metode demonstrasi. Seorang guru diharapkan dapat menyajikan meteri dengan
menggunakan metode demonstrasi yang dapat membantu proses belajar mengajar di
kelas agar penyampaian materi lebih mudah diserap oleh siswa. Namun, tidak
banyak guru yang menggunakan dan memanfaatkan metode tersebut. Akibatnya para
siswa merasa sulit dan memerlukan waktu yang lama untuk memahami materi
pelajaran yang diajarkan.
Dari data yang saya
peroleh di Mts Al-amanah kelas VIII dari 27 siswa hanya 3 siswa yang dapat
menjawab dan menyelesaikan tugas-tugas dengan baik. Jika di lihat dari hasil
nilai ulangan harian siswa Mts Al-amanah kelas VIII yaitu niali
tertinggi 80 dan nilai terendah 60 sehigga rata-rata nilai pesarta didik 65% dengan
KKM =70.
Atas dasar hal tersebut dimungkinkan karena kurang termotivasinya siswa yang
disebabkan guru tidak menggunakan metode yang kurang menarik perhatian siswa
dalam menyampaikan materi pelajarannya. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka
penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Penerapan
metode demonstrasi untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar peserta didik
pada mata pelajaran ekonomi kelas VIII semester I materi pelaku ekonomi di Mts
AL-amanah besuki kabupaten situbondo tahun 2012/2013
Pada saat ini
pelajaran ekonomi menjadi kurang menantang kegairahan belajar siswa karena
siswa tidak di libatkan secara aktif untuk belajar dan mengembangkan sendiri
konsep konsep atau pengetahuan yang diperoleh.dari guru dan buku atau sumber,
siswa tidak diajak untuk kritis dan
termotivasi belajar secara bersemangat dan menyenangi kegiatan belajar ekonomi
sehingga pembelajaran tidak terasa membosankan dan monoton.
Menurut Mudjino
(2002: 10) Belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar
berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan,
sikap, dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari stimulasi
yang berasal dari lingkungan, dan proses kognitif yang dilakukan oleh
pembelajar. Dengan demikian, belajar merupakan peristiwa sehari-hari di
sekolah. Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar dapat
dipandang dari dua subjek, yaitu dari siswa dan guru. Dari segi siswa, belajar
dialami sebagai suatu proses, siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan
belajar. Dari guru, proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar
tentang sesuatu hal.
Pembelajran
ekonomi adalah bagian dari ilmu sosial yang bersifat dinamis dalam perkembangan
informasi, setiap saat dapat terjadi perubahan ysng memerluksn solusi berbeda
beda pula. Untuk itu metode yang digunakan dalam mengajar haruslah metode
yang fleksibel dan tidak bersifat
mengajarkan hafalan saja tetapi juga pemahaman dan pengalaman langsung yang
dapat di aplikasikan dalam masalah atau informasi atau juga isu yang berbeda
beda dikehidupan nyata sehari-harinya dan mengarah kepada peningkatan kearah
berfikir rasional siswa.
Pada mata pelajaran ekonomi yang baik dan untuk
mengatasi berbagai kelemahan dalam proses belajar mengajar adalah dengan
menggunakan metode pembelajaran demonstrasi. Yang di maksud dengan Metode
demonstrasi ialah suatu upaya atau praktek dengan menggunakan peragaan yang di
tujukan pada siswa yang tujuannya ialah agar supaya semua sisiwa lebih mudah
dalam memahami materi pembelajaran.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasar
latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka masalah yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.2.1
Apakah penggunaan
Penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan aktifitas belajar siswa pada
mata pelajaran Ips kelas VIII `semester ganjil kompetensi dasar mendeskripsikan
pelaku ekonomi rumah tangga, masyarakat, perusahaan, koperasi, dan negara di MTs.
Al-Amanah Kec. Besuki Kab. Situbondo
1.2.2
Apakah penggunaan
Penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran Ips kelas VIII semester
ganjil kompetensi dasar mendeskripsikan pelaku ekonomi rumah tangga,
masyarakat, perusahaan, koperasi, dan negara di MTs. Al-Amanah Kec. Besuki Kab.
Situbondo
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang
dikemukakan diatas maka peneliti mengambil tujuan dari penelitian ini
adalah:
1.3.1
Untuk
meningkatkan aktifitas belajar peserta
didik melalui metode demonstrasi pada mata pelajaran Ips kelas VIII
semester I materi pelaku ekonomi di Mts Al-amanah besuki kabupaten situbondo
thn 2012/2013
1.3.2
Untuk
meningkatkan hasil belajar peserta didik
melalui penerapan metode demonstrasi pada
pelajaran Ips kelas VIII semester I materi pelaku ekonomi di Mts
Al-amanah besuki kabupaten situbondo thn 2012/2013
1.4 Manfaat
penelitian
1.4.1
Bagi guru
1.4.1.1 Bahwa penggunaan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran dapat
mempermudah menerangkan materi pelajaran.
1.4.1.2 Dengan menggunakan metode demonstrasi dapat
memperbaiki metode belajar mengajar guna meningkatkan prestasi siswa.
1.4.2 Bagi Siswa
1.4.2.1 Dengan metode demonstrasi, siswa dapat secara
mudah memahami materi pembelajaran
1.4.2.2 Dengan metode demonstrasi, diharapkan dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa.
1.4.3 Bagi
Sekolah
Dapat
memeberikan sumbangsih pemikiran bagi penentu kebijakan atau kepala sekolah
agar mensosialisasikan metode pembelajaran yang sesuai dengan pokok bahasan
dalam upaya peningkatan dan mengoptimalkan prestasi belajar, dan dapat menaikan
citra sekolah.
1.5
Batasan Istilah
Peneltian
merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan, maka agar tidak menimbulkan
kesalahpahaman dan untuk menyamakan persepsi peneliti dengan pembaca, maka
perlu dirumuskan batasan istilah. Dalam penelitian ini adalah :
a.
Model pembelajaran
Model pemebelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
melaksanakan pembelajaran atau pembelajaran tutorial dan untuk menentukan
perangkat-perangkat pembelajaran.
b.
Metode Demonstrasi
Metode Demonstrasi ialah suatu upaya atau praktek dengan
menggunakan peragaan yang di tujukan pada siswa yang tujuannya ialah agar
supaya semua sisiwa lebih mudah dalam memahami materi pembelajaran.
c.
Aktifiats belajar
Aktifitas belajar adalah segla tindakan yang dilakukan
peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.
d.
Hasil Belajar
Hasil belajar adalah angka penilaian hasil kegiatan belajar
yang dinyatakan dalam bentuk symbol, angka, huruf atau kalimat yang
mencerminkan hasil yang sudah di capai peserta didik dalam periode tertentu.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Kajian Teoritis
2.1.1 Hakikat Belajar dan Pembelajaran
Belajar
merupakan kegiatan setiap orang, seseorang dikatakan belajar apabila terjadi
suatu proses kegiatan yang mengakibatkan perubahan tingkah laku. Kegiatan untuk
mencapai tingkah laku merupakan hasil belajar. Perubahan tingkah laku itu
terjadi dalam waktu relatif lama. Kegiatan dan usaha untuk menncapai perubahan
tingkah laku merupakan hasil belajar.
Belajar prinsipnya adalah proses
perubahan tingkah laku sebagai akibat dari ineraksi antara peserta didik dengan
sumber-sumber atau objek belajar baik secara disengaja dirancang atau tanpa
disengaja dirancang (Sulaina, 2005). Kegitan belajar tersebut dapat dialami
oleh orang yang sedang belajar dan dapat
diamati oleh orang lain. Belajar yang dialami oleh peserta didik ada
hubungannya dengan usaha pembelajran yang dilakukan oleh guru. Pada satu sisi
belajar yang dialami oleh peserta didik terkait dengan pertumbuhan jasmani yang
siap berkembang. Pada sisi lain, kegiatan belajar yang berupa perkembangan
mental juga didorong oleh tindakan pembelajaran. Dari segi peserta didik,
belajar yang dialaminya sesuai dengan perkembangan jasmani dan perkembangan
mental akan menghasilkan hasil belajar. Dari segi guru, kegiatan belajar
peserta didik merupakan akibat dari tindakan pembelajaran. Proses belajar
peserta didik tersebut menghasilkan perilaku yang dikehendaki, suatu hasil
belajar sebagai dampak pengajaran. (Dimyati dan Midjiono, 2002).
Pembelajaran adalah sutu kegiatan
dimana guru menyampaikan pengetahuan dan pengalaman kepada peserta didik.
Dengan tujuan agar pengetahuan yang disampaikan dapat dipahami oleh peserta
didik, sehingga mengajar dapat dikatakan baik apabila hasil belajar peserta
didik juga baik. Apabila terjadi proses belajar mengajar yang baik, maka dapat
diharapkan bahwa hasil belajar peserta didik akan baik. Dengan demikian peserta
didik sebagai subyek dapat memahami materi yang diajarkan dan mampu
mengapliasikan pada situasi yang baru, seperti dalam masalah kehidupan
sehari-hari.
Pembelajaran berhubungan dengan
belajar mengajar. Proses tersebut terjadi secara bersamaan dan tidak dapat
dipisahkan. Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu sisitem atau suatu
proses membelajarkan subyek didik/pembelajar yang direncanakan atau didesain,
dilaksanakan dan dievaluasi secara sisitematis agar subyek didik / pembelajar
dapat mempunyai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Menurut Dimyati
dan Mudjiono (2002 : 157)
pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan
peserta didik, bagaimana memperoleh dan memproses pengatahuan, keterampilan dan
sikap. Sedangkan Setyosari ( 2001 : 31) mendefinisikan pembelajaran sebagai
suatu uasaha manusia yang dilakukan dengan tujuan untuk membantu memfasilitasi
belajar orang lain. Proses pembelajaran terjadi apabila ada interksi antara
guru dengan peserta didik dan peserta didik dengan peserta didik lainnya. Dengan melakukan
pembelajaran siswa diharapkan dapat mengalami perubahan tingkah laku, menambah
pengetahuan dan berfikir kritis.
Pengetahuan social merupakan
seperangkat fakta, peristiwa, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan
perilaku dan tindakan manusia untuk membangun dirinya, masyarakat, bangsa dan
lingkungannya berdasarkan pengalaman masa lalu yang dapat dimaknai untuk masa
kini dan diantisipasi untuk masa yang akan datang, (Depdiknas, 2004 : 1). Dalam
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), tujuan utama ilmu pengatahuan
social adalah untuk mengembangkan peserta didik agar peka terhadap masalah
social yang terjadi dimasyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap segala
ketimpangan yang terjadi dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi
yang menimpa dirinya maupun yang menimpa masyarakat. Ekonomi merupakan cabang
dari ilmu pengatahuan social, tentu cakupan materi tidak lepas dari fenomena
yang terjadi dimasyarakat. Dapat dikatakan bahwa pelajran ekonomi selalu
mengikuti perkembangan yang terjadi dimasyarakat.
2.1.2 Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang
dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam
upaya untuk mencapai tujuan. Berdasarkan
definisi / pengertian metode pembelajaran yang dikemukakan tersebut di atas
dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan suatu cara atau strategi
yang dilakukan oleh seorang guru agar terjadi proses belajar pada diri siswa
untuk mencapai tujuan. Benny A. Pribadi (2009: 11) menyatakan, “tujuan proses pembelajaran
adalah agar siswa dapat mencapai kompetensi seperti yang diharapkan. Untuk
mencapai tujuan proses pembelajaran perlu dirancang secara sistematik dan
sistemik”.
Dalam penelitian ini yang dimaksud
dengan metode pembelajaran adalah cara menyajikan materi
pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada
diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan. Fungsi metode pembelajaran
menurrut Darwin syah (2007: 134), metode mengajar dapat menciptakan terjadinya
interaksi belajar mengajar yang baik, efektif dsan efisien. Karena dengan
pemilihan metode mengajar yang baik dan tepat guna tepat sasaran akan semakin
menciptakan interaksi edukatif yang semakin baik pula.
2.1.3 Metode Demontrasi
Istilah demonstrasi dalam pengajaran dipakai untuk menggambarkan
suatu cara mengajar yang pada umumnya penjelasan verbal dengan suatu kerja
fisik atau pengoperasioan peralatan barang atau benda. Kerja fisik
itu telah dilakukan atau peralatan itu telah dicoba lebih dahulu sebelum didemonstrasikan.
Orang yang mendemontrasikan (guru, peserta didik, atau orang luar) mempertunjukkan sambil
menjelaskan tentang sesuatu yang didemonstrasikan (Ramayulis, 244:2004).
Adapun aspek yang penting dalam menggunakan Metode Demonstrasi adalah:
1.
Demonstrasi akan menjadi metode yang
tidak wajar apabila alat yang di Demonstrasikan tidak bisa di amati dengan
seksama oleh siswa. Misalnya alatnya terlalu kecil atau penjelasannya tidak
jelas.
2.
Demonstrasi menjadi kurang efektif
bila tidak di ikuti oleh aktivitas di mana siswa sendiri dapat ikut
memperhatikan dan menjadi aktivitas mereka sebagai pengalaman yang berharga.
3.
Tidak semua hal dapat di
Demonstrasikan di kelas karna sebab alat-alat yang terlalu besar atau yang
berada di tempat lain yang tempatnya jauh dari kelas.
4.
Hendaknya dilakukan dalam hal-hal
yang bersifat praktis.
Ada beberapa kelebihan dan kelemahan dalam penerapan
metode demontrasi, diantaranya adalah:
a.
Kelebihan
Ø Perhatian anak
didik dapat di pusatkan, dan titik berat yang di anggap penting oleh guru dapat
di amati
Ø Perhatian anak
didik akan lebih terpusat pada apa yang di Demonstrasikan, jadi proses anak
didik akan lebih terarah dan akan mengurangi perhatian anak didik kepada
masalah lain
Ø Dapat
merangsang siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti proses belajar
Ø Dapat menambah
pengalaman anak didik
Ø Bisa membantu
siswa ingat lebih lama tentang materi yang di sampaikan
Ø Dapat
mengurangi kesalah pahaman karna pengajaran lebih jelas dan kongkrit
Ø Dapat menjawab
semua masalah yang timbul di dalam pikiran setiap siswa karna ikut serta
berperan secara langsung.
b.
Kelemahan
Ø
Memerlukan waktu yang cukup banyak
Ø
Apabila terjadi kekurangan media,
metode demonstrasi menjadi kurang efesien
Ø
Memerlukan biaya yang cukup mahal,
terutama untuk membeli bahan-bahannya
Ø
Memerlukan tenaga yang tidak sedikit
Ø
Apabila siswa tidak aktif maka
metode demonstran menjadi tidak efektif.
Tabel Sintak metode pembelajaran Demontrasi
Tahapan-tahapan
|
Perilaku guru
|
Tahap 1
Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
|
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa
untuk belajar.
|
Tahap 2
Mendemonstrasikan keterampilann
|
Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan
informasi tahap demi tahap.
|
Tahap 3
Membimbing pelatihan
|
Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan.
|
Tahap 4
Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
|
Guru
mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik
|
Tahap 5
Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan
penerapan
|
Guru
mempersiapkan kesempatan untuk melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian
khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari
|
2.1.4
Aktifitas belajar
Aktifitas belajar adalah sebuah aktifitas peserta
didik dalam proses belajar, mulai dari kegiatan fisik sampai kegiatan psikis.
“pada prinsipnya belajar adalah berbuat, tidak ada belajar jika tidak ada aktifitas,
itulah mengapa aktifitas merupakan prinsip yang sangat penting dalam interaksi
belajar mengajar” (Sadirman, 2001 : 93).
Banyak macam-macam kegiatan (aktifitas belajar)
yang dapat dilakukan oleh peserta didik dalam belajar. Paul B. Diedrich (dalam
Nasution, 2004 : 9) membuat suatu daftar macam-macam kegiatan (aktifitas
peserta didik), antara lain:
a.
Visual activities, yang termasuk didalamnya misalnya, membaca,
memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
b.
Oral activities, seperti : menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi
saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
c.
Listening activities, sebagai contoh,
mendengarkan : uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
d.
Writing activities, seperti misalnya : menulis cerita, karangan, laporan
angket, menyalin.
e.
Drawing activities, misalnya: menggambar, membuat garfik, peta, diagram.
f.
Motor activities, yang termasuk didalamnya antara lain : melakukan
percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
g.
Mental activities, sebagai contoh misalnya, menangkap, mengingat,
memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
h.
Emotional activities, seperti misalnya, menaruh
minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
Merujuk
dari uraian diatas maka, dalam pembelajaran metode demontrasi ini akan muncul
aktivitas antara lain :
1.
Visual activities, seperti : membaca, memperhatikan
gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain
yang berhubungan
dengan materi;
2.
Oral activities, seperti : bertanya / mengemukakan pendapat yang
berhubungan dengan materi;
3.
Mental activities, seperti : menyelesaikan masalah atau
pertanyaan-pertanyaan yang dijumpai dalam model pembelajaran tersebut.
2.1.5 Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh
individu setelah proses belajar berlangsung, yang dapat memberikan perubahan
tingkah laku baik pengetahuan, pemahaman, sikap dan keterampilan peserta didik
sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sebagaimana dikemukakan Hamalik
(1995 : 48) hasil belajar adalah perubahan tingkah laku subyek yang meliputi kemampuan
kognitif, afektif dan psikomotor dalam situasi tertentu berkat pengalamannya
berulang-ulang. Pendapat tersebut didukung oleh Sudjana (2005 : 3) “hasil
belajar ialah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif,
dan psikomotor yang dimiliki peserta didik setelah menerima pengalaman belajarnya”.
Kurikulum sebagai hasil belajar. Popham dan Baker
mendefinisikan kurikulum sebagai “all
planned learning outcomes for which the school its responsible” (Tanner dan
Tanner, 1980 : 24). Secara jelas diutarakan oleh Popham dan Banker bahwa semua
rencana hasil belajar (learning outcomes) yang menjadi tanggung jawab sekolah
adalah kurikulum.adanya definisi ini mengubah pandangan penanggung jawab
sekolah dari kurikulum sebagai alat menjadi kurikulum sebagai tujuan. Tanner
dan Tanner (1980 : 43) memendang kurikulum sebagai rekonstruksi pengetahuan dan
pengalaman, yang secara sisitematis dikembangkan dengan bantuan sekolah, agar
memungkinkan siswa menambah pengetahuan dan pengalamannya. Dengan demikian,
kurikulum sebagai hasil belajar merupakan serangkaian hasil belajar yang
diharapkan. Namun demikian bukan berarti dalam kurukulum tidak diorganisasikan
cara-cara sistematis untuk mewujudkan hasil belajar yang diharapkan.
Menurut Sudjana (2005 : 22-23) yang mengutip
pendapat Bloom bahwa hasil belajar yang
hendak di capai digolongkan menjadi 3
ranah yaitu ranah kognitif, afektif, psikomotorik. Sesuai dengan pokok bahasan
dalam penelitian ini, hanya ada dua ranah yang tampak sebagai hasil belajar
yaitu ranah kognitif. dan ranah afektif Hasil belajar dari Bloom adalah sebagai
berikut :
a. Ranah Kognitif
Hasil belajar yang berkenaan dengan
ranah kognitif adalah hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek
menurut Bloom (dalam Suciati, 2006) yaitu :
1. Pengetahuan hafalan ; pengetahuan yang
sifatnya faktual dan hal-hal yang perlu diingat serta kemampuan terminal
(jembatan) untuk menguasai tipe hasil belajar lainnya.
2. Pemahaman ; kemampuan menangkap
makna (arti dari suatu konsep) sehingga diperlukam hubungan / pertautan antara
konsep dengan makna yang ada dalam konsep tersebut.
3. Aplikasi ; kesanggupan penerapan
dan mengabtraksi suatu konsep, ide, rumus, hukum dan situasi yang baru dan
lebih banyak keterampilan mental.
4. Analisis ; kesanggupan memecah,
mengurai suatu integritas (kesatuan) yang utuh menjadi unsur-unsur /
bagian-bagian yang mempunyai arti atau mempunyai tingkatan / hierarki.
5. Evaluasi ; kesanggupan memberikan
keputusan tentang nilai sesuatu berdasrkan judgment yang milikinya dan kriteria
yang dipakainya.
6. Kreasi ; kemampuan untuk
menciptakan sesuatu. Kemampuan ini muncul karena siswa sudah memiliki kemampuan
evaluasi. Jadi kreasi merupakan tindakan nyata dari evaluasi.
Hasil belajar yang dijadikan
penilaian pada ranah kognitif dalam penelitian ini adalah pemahaman dan
pengetahuan terhadap materi pembelajaran IPS yang diperoleh dari tes kegiatan
belajar mengajar.
b. Ranah Afektif
Bidang
afektif menurut Krathwohl (dalam suciati, 2006) berkenaan dengan sikap dan
nilai yang tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku atensil
perhatian terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan
teman sekelas, kebiasaan belajar dan lain-lain.
Adapun
tingkatan bidang afektif sebagai tujuan dan tipe hasil belajar antara lain :
1. Receiving ; kepekaan dalam
menerima rangsangan (stimulasi) dari luar yang datang kepada siswa, baik dalam
bentuk masalah situasi dan gejala.
2. responding ; reaksi yang diberikan
seseorang terhadap stimulasi yang datang dari luar.
3. Valuing ; berkenaan dengan nilai
dan kepercayaan terhadap gejala dan stimulasi tersebut.
4. Organisasi ; pengembangan nilai ke
suatu system organisasi termasuk konsep nilai dan system nilai.
5. Karakteristik nilai ; keterpaduan
dari semua system nilai yang dimiliki seseorang yang mempengaruhi pada
kepribadian dan tingkah lakunya.
Hasil yang dijadikan penilaian pada ranah
afektif adalah hasrat keingintahuan, partisipasi peserta didik dalam
mengerjakan soal, rasa senang dan perhatian peserta didik pada pelajaran. Dari
data yang saya peroleh diketahui hasil belajar siswa di Mts Al-amanah kelas
VIII A dari data 27 siswa hanya ada 3
siswa yang tuntas.
Dari hasil
pembelajaran, dapat diketahui hasil belajar. Ketuntasan hasil belajar adalah
pencapaian taraf penguasaan minimal yang ditetapkan setiap unit bahan ajar,
baik secara perorangan maupun secara klasikal.
Adapun keteria dari ketuntasan hasil belajar adalah sebagai berikut :
1. Daya serap perorangan, seorang peserta didik
dikatakan tuntas dalam belajar apabila setelah mencapai skor tes dari skor tes >
70 dari skor maksimal 100;
2. Daya serap klasikal, suatu kelas dikatakan
tuntas jika terdapat minimal 75% peserta didik yang tuntas
2.2
Kajian Empiris
Kajian
empiris adalah berupa telaah terhadap hasil penelitian sebelumnya yang relevan,
baik hasil penelitian tersebut telah disajikan pada suatu jurnal atau masih
berbentuk buku. Kajian empiris dilakukan untuk memperkuat hasil kajin teoritis
Hasil penelitian tindakan kelas
dilaksanakan oleh: Maharani di SDN setialaksana 3 dengan judul skripsi ‘’ Penggunaan
Metode Demonstran Pada Pembelajaran Matematika’’ penelitian pada siklus I menunjukan
bahwa nilai rata-rata kelas adalah 60 dari 32 siswa sedangkan pada siklus II
menunjukan rata-rata kelas adalah 70 dari 32 siswa. Dengan rincian 7 siswa
memperoleh nilai di atas rata-rata, 17 siswa mendapatkan nilai cukup, sedangkan
8 siswa mendapatkan nilai dibawah rata-rata.
Hasil
penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh: Lukman
Zain di
kelas IV SDN Sukasari I Rajeg Tangerang dengan judul skripsi ‘’ Penerapan metode demontrasi ‘’ Berdasarkan hasil penelitian tahap siklus 2
pada tabel di atas, dideskripsikan sebagai berikut : kemampuan guru dalam
membuka pelajaran, mengeksplorasi, pengenalan shalat, dan menutup pelajaran
sudah berjalan dengan biak hanya perlu adanya peningkatan dalam mengaplikasikan
shalat sehingga secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa guru dalam
melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan demonstrasi telah
dikuasai dan dilaksanakan dengan baik hal ini terlihat dari nilai rata-ratanya
sebesar 3.80.
Adapun nilai rat-rata hasil post tes dari proses
pembelajaran tersebut hanya mencapai 7.79 degan tingkat ketuntasan belajar
sebesar 86%. Hal tersebut mengidentifikasikan bahwa siswa sudah bisa mencapai
tujuan dari pembelajaran
2.3 Kerangka Konseptual
Pembelajara
adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan peserta didik,
bagaimana memperoleh dan memproses pengetahuan , keterampilan dan sikap.
Pembelajaran berhubungan dengan belajar dan mengajar, proses tersebut terjadi
secara bersamaan dan tidak dapat dipisahkan. Pada pembelajaran ips, Metode
pembelajran demontrasi ini diterapkan dimana antara guru dan peserta didik
saling berinteraksi. Pada Metode pembelajran demontrasi ini sesungguhnya untuk
membina kemampuan peserta didik dalam berkolaborasi untuk mencapai kemampuan
akademis sesuai dengan materi yang dikuasai. Peranan guru dalam pembelajaran
ini sangatlah dibutuhkan untuk menyampaikan materi pada peserta didik, menyuruh
peserta didik mendemontrasikan materi yang sedang di ajarkan, melihat aktifitas
peserta didik dalam mendemonstrasikan materi dan memberikan evaluasi/ tes pada
peserta didik. Pada peserta didik dalam pembelajaran ini adalah dengan mendemonstrasikan
materi setelah itu peserta didik menjelaskan hasil dari mendemonstrasikan
materi.
Hasil belajar peserta didik pada dua
ranah yaitu 1) Ranah kognitif yang berhubungan dengan ingatan atau pengenalan
terhadap pengetahuan dan informasi, serta mengembangkan keterampilan
intelektual (Jarolimek dan Foster, 1981: 148). 2) Ranah afektif yang
berhubungan dengan hierarki perhatian, sikap, penghargaan, nilai, perasaan dan
emosi (Davies, 1986 : 97 ; Jarolimek dan Foster 1981 : 148). Dari hasil belajar
dapat diketahui ketuntasan hasil belajar. Adapun kriteria dari ketuntasan hasil
belajar adalah sebagai berikut :
1. Daya serap perorangan, seorang peserta didik
dikatakan tuntas dalam belajar apabila setelah mencapai skor tes
(KKM) dari skor tes maksimal 100;
2. Daya serap klasikal, suatu kelas ditentukan
telah tuntas dalm pelajaran apabila dikelas tersebut telah terdapat minimal 85
% telah mencapai skor tes
(KKM) dari skor minimal 100
2.4
Hipotesis Tindakan
Sesuai
dengan kajian teori, maka dalam penelitian ini diajukan hipotesis sebagai
berikut :
1. Penerapan Metode demontrasi pada kompetensi
dasar mendeskripsikan pelaku ekonomi rumah tangga, masyarakat,perusahaan,
koperasi dan negara dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar peserta
didik di MTs. Al-Amanah.
BAB
III
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan
Penelitian
Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian adalah Penelitian
Tindakan Kelas (Classroom Action Reseach),
yaitu penelitian dengan upaya menguji cobakan ide-ide ke dalam praktek untuk
memperbaiki atau merubah sesuatu agar memperoleh dampak nyata dari situasi.
Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian reflektif diri yang secara
kolektif dilakukan peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran
dan keadilan praktek pendidikan dan sosial mereka, serta pemahaman mereka mengenai
praktek ini dan terhadap situasi tempat dilakukan praktek-praktek ini.
Penelitian
tindakan merupakan intervensi skala kecil terhadap tindakan didunia nyata dan
pemeriksaan cermat terhadap pengaruh intervensi tersebut. Penelitian tindakan
merupakan kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan
kualiatas kegiatan yang ada di dalamnya. Seluruh prosesnya, yang meliputi
telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan dampak, menjalin
hubungan yang diperlakuan antar evaluasi diri dan perkembangan profesional.
Fungsi dari penelitian
tindakan mempunyai lima kategori fungsi, yaitu:
1.
Untuk memecahkan masalah yang
didiagnosis dalam situasi tertentu
2.
Alat pelatihan dalam jabatan untuk
membekali guru dengan ketrampilan dan metode baru, mempertajam analisis dan
mempertinggi kesadaran dirinya
3.
Untuk mengenalkan pendekatan tambahan
atau inovasi dalam pembelajaran
4.
Untuk meningkatkan komunikasi yang
kurang lancar antara guru dan peneliti
5.
Untuk menyediakan alternatif yang lebih
baik
Dari
lima kategori di atas, kalau direduksi fungsi penelitian tindakan tersebut
sebenarnya sebagai alat untuk meningkatkan kualitas, dan efisiensi pelaksanaan
kegiatan pendidikan.
Selanjutnya
Cohen dan Manion, (1980) menyatakan bahwa bidang garapan penelitian meliputi
(1) metode mengajar (2) strategi belajar (3) prosedur evaluasi (4) perubahan
sikap dan nilai (5) pengembangan jabatan guru (6) pengelolahan dan
pengendalian, dan (7) administrasi.
Bidang
garapan penelitian lainnya yang juga perlu mendapat perhatian adalah (1) media
pembelajaran, baik cetak maupun non cetak, elektronik dan non elektronik (2)
lingkungan belajar (setting), (3) materi pembelajaran, (4) kurikulum dan (5)
model-model pembelajaran
Langkah-langkah secara
prosedur penelitian tindakan meliputi 8 tahap,
1.
Tahap I : identifikasi –
evaluasi – formulasi masalah yang dipandang kritis dalam situasi mengajar
sehari-hari
2.
Tahap II : diskusi
pendahuluan dan perundingan diantara kelompok yang berminat/terlibat: guru,
peneliti, penasihat, sponsor, yang berakhir dengan suatu draft usula dan
persoalan-persoalan yang perlu dijawab
3.
Tahap III : kajian pustaka,
jurnal penelitian yang relevan dalam hal sasaran, prosedur dan masalahnya.
4.
Tahap IV : Modifiksi atau
redifinisi rumusan awal masalahnya. Mungkin muncul hipotesis yang dapta diuji.
5.
Tahap V : Pemilihan prosedur penelitian, penetapan
smapel, adminidtrasi penelitian dan tindakannya, pemilihan bahan, metode
belajar mengajar, alokasi sumber dan tenaga.
6.
Tahap VI : pemilihan
prosedur evaluasi dan melaksanakan prinsip kontinyuitas dan menetapkan sasaran
evaluasinya.
7.
Tahap VII : Melaksanakan
proyek penelitian tindakan.
8.
Tahap VIII : Pemakaian data,
penarikan inferensi dan penilaian seluruh proyek penelitian. Diskusi
penemuannya berdasarkan kriteria yang telah disetujui.
Penelitian
ini direncanakan menggunakan dua siklus tindakan. Setiap siklus tindakan
dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai seperti yang di uraikan
dalam faktor yang ingin diteliti. Setiap siklus tindakan terdiri dari satu sub
materi yang dibelajarkan dengan satu siklus belajar. Apabila hasil yang
diinginkan belum tuntas maka di adakan siklus berikutnya dengan materi
pelajaran selanjutnya.
Untuk
MTs. Al- Amanah kelas VIII A Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)yang digunakan
pada mata pelajaran IPS adalah sebagai berikut :
1.
Daya serap individual, yaitu siswa dikatakan tuntas secara
individual jika mendapat skor
70 dari skor maksimal 100.
2.
Daya serap klasikal, yaitu suatu kelas dikatakan tuntas jika
terdapat minimal 75% siswa yang telah tuntas.
Bagan model
PTK yang dikembangkan oleh Kurt Lewin dalam Sanjaya,Wina
(2009 : 50)
Prosedur Penelitian
Sebagaimana
yang dikemukakan sebelumnya, bahwa penelitian ini merupakan jenis Penelitian
Tindakan Kelas. Dalam penelitian ini direncanakan akan dilakukan 2 siklus, dengan
2 kali pertemuan ( tiap pertemuan2x40’). Materi pelajaran yang digunakan dalam
pelaksanaan tindakan ini adalah pokok bahasan Mendeskripsikan Pelaku
Ekonomi Rumah tangga, masyarakar, perusahaan, Koperasi dan Negara.
Dari
desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) diatas, maka langkah-langkah pada
penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.
Tindakan pendahuluan
1)
Meminta izin penelitian kepada kepala MTs.
2)
Wawancara dengan guru ips terpadu dengan tujuan untuk
mengetahui model pembelajaran apa yang pernah diterapkan dikelas tersebut, dan
untuk mengetahui apakah metode demontrasi pernah diterapkan
dalam kelas tersebut.
3)
Mengkonfirmasikan waktu penelitian dengan guru ips
terpadu
4)
Meminta daftar nama dan daftar nilai siswa
b.
Pelaksanaan siklus
1)
Tahap perencanaan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan meliputi :
a)
Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode
demontrasi
b)
Menyiapkan perangkat pembelajaran dan segala sesuatu yang
dibutuhkan selama proses pembelajaran
c)
Menyiapkan materi pembelajaran yang
akan didemontrasikan
d)
Menyusun soal/tes individual pada akhir kegiatan pemblajaran
2)
Tahap pelaksanaan tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan, untuk kegiatan awal yang dilakukan
guru adalah menjelaskan tujuan pembelajaran dan model pembelajaran yang akan
digunakan dan melihat pengetahuan dan pemahaman siswa tentang materi. Kegiatan
selanjutnya adalah sebagai berikut :
a.
Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan
siswa untuk belajar.
b.
Guru mendemonstrasikan
keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap.
c.
Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan.
d.
Guru mengecek apakah siswa telah
berhasil melakukan tugas dengan baik.
e.
Guru mempersiapkan kesempatan
untuk melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan
kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari
3)
Observasi
Observasi dilakukan dengan tujuan agar memperoleh
informasi lebih mendalam dan komprehenship tentang data aktifitas dan suasana
pembelajaran mulai dari awal sampai akhir tindakan. Data dari hasil observasi
tersebut digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan dan kelebihan-kelebihan
pelaksanaan tindakan, yang akan digunakan untuk acuan berikutnya. Observasi ini
dilakukan oleh peneliti dan guru, hasil observasi di catat dalam lembar
observasi dan catatan lapangan.
4)
Refleksi
Setelah menyelesaikan siklus I peneliti bersama guru bidang
studi melakukan diskusi untuk membahas hasil observasi terhadap pelaksanaan
tindakan. Dari hasil observasi dan diskusi tersebut, selanjutnya dijadikan
sebagai bahan refleksi dalam rangka memperbaiki tindakan pada siklus II.
5)
Instrumen
Penelitian
Lembar Observasi
1.
Aktivitas siswa
No
|
Nama
|
Pengajuan
pertanyaan
|
Menjawab
pertanyaan
|
jumlah
|
Ketercapaian %
|
Aktif
|
Tidak
|
1
|
2
|
3
|
|
1
|
2
|
3
|
|
1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
dst
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Jumlah skor
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Skor tercapai
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Skor maksimal
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Ketercapaian %
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Kriteria aktivitas
siswa
-
Bertanya/mengemukakan pendapat
1 : Siswa tidak
pernah bertanya/mengemukakan pendapat sekali
2 : Siswa
bertanya/mengemukakan pendapat dua kali
3 : Siswa
bertanya/mengemukakan pendapat tiga kali
-
Menjawab pertanyaan
1 : Siswa
menjawab 1 pertanyaan dengan benar
2
: Siswa mampu menjawab 2 pertanyaan dengan benar
3 : Siswa mampu
menjawab 3 pertanyaan dengan benar
3.2 Subyek dan
Lokasi Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan di kelas VIII A, tahun ajaran 2011-2012
bertempat di MTs. Al-Amanah.
Waktu
pelaksanaan penelitian pada semester ganjil tahun ajaran 2011-2012 yaitu bulan
Oktober-Nopember dan disesuaikan dengan jam pelajaran IPS kelas VIII A yang
digunakan sebagai tempat penelitian.
3.3 Tehnik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah suatu cara yang dilakukan
untuk memperoleh data didalam penelitian, metode dan alat pengumpulan data
mempunyai peranan yang sangat penting dalam penelitian.
Metode
yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode
observasi, metode interview, metode tes dan metode dokumentasi.
a.
Metode observasi
Observasi merupakan cara pengumpulan data dengan jalan
mengadakan pengamatan dan pencatatan terhadap gejala-gejala fakta. Sifat-sifat
dari obyek yang diselidiki baik secara langsung maupun tidak langsung dalam hal
ini pengertian observasi menurut Sutrisno Hadi, observasi adalah pengamatan dan
pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang di selidiki.
Observasi dilakukan terhadap seluruh siswa, dengan penilaian
secara menyeluruh yang meliputi segala aktifitas siswa selama pembelajaran
berlangsung. Observasi dilakukan oleh peneliti, dan data observasi dicatat
dalam lembar pengamatan aktifitas belajar siswa, meliputi bertanya /
mengemukakan pendapat, menyelesaikan masalah atau
pertanyaan-pertanyaan yang dijumpai dalam model pembelajaran tersebut. Instrumen
ini digunakan untuk mengetahui aktifitas yang dilakukan oleh siswa yang menjadi
subyek penelitian sebagai fokus pengamatan selama berlangsungnya pembelajaran.
b.
Metode tes
Metode
tes digunakan untuk memperoleh data hasil belajar dengan
menggunakan pertanyaan atau seperangkat tugas yang harus dikerjakan siswa atau
sekelompok siswa sehingga dapat menghasilkan tentang skor atau nilai dari
prestasi belajar yang mereka capai. Menurut jenisnya, tes dibagi menjadi dua
macam yaitu, tes uraian dan tes obyektif.
Tes yang digunakan
dalam penelitian ini adalah tes uraian, karena tes dalam bentuk ini dapat
memunculkan kreatifitas siswa dalam berpikir dan menyusun jawaban
yang
sesuai dengan pendapat dan pikiran mereka. tes uraian adalah butiran
soal yang mengandung pertanyaan atau tugas soal dan cara jawabannya harus dilakukan dengan cara mengekspresikan
pikiran siswa
secara naratif.
c.
Metode dokumenter
Metode dokumenter adalah metode pengumpulan
data dengan cara mencari data ayang sudah di catat atau dipublikasikan dalam
beberapa dokumen yang ada, seperti dalam buku induk, buku pribadi, dan surat
keterangan.Dengan demikian dikatakan bahwa metode dokumenter adalah metode
untuk mengumpulkan data melalui pencatatan buku yang telah di dokumentasikan.
Metode
dokumentasi dalam penelitian ini dipergunakan untuk memperoleh data tentang:
1.
Denah MTs. Al-Amanah Besuki Situbondo
2.
Nama dan jumlah siswa MTs. Al-Amanah khususnya kelas VIII A
3.
Nama dan jumlah guru MTs.Al-Amanah
4.
Nama dan jumlah tenaga administrasi Mts. Al-Amanah
5.
Prestasi belajar mata pelajaran Ips kelas VIII A
MTs. Al-Amanah
3.4 Tehnik analisis Data
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisa deskriptif kualitatif, dengan memaparkan data tentang aktivitas siswa
dan ketuntasan belajar siswa. Yang diperoleh dari hasil pelaksanaan
pembelajaran dengan menggunakan metode demontrasi yang terjadi dalam
siklus keseluruhan.
Adapun analisis data
yang dihasilkan adalah sebagai berikut :
a.
Aktivitas siswa
Aktivitas siswa selama pembelajaran dengan menggunakan
metode demontrasi dapat dianalisis dengan menggunakan rumus :
P1 =
x 100%
P1 = Presentase keaktifan
siswa
m = Skor yang di capai siswa
M = Skor maksimal
Tabel Kriteria aktivitas siswa
Prosentase
|
Kategori
|
P1
%
|
Sangat baik
|
80%
P1
90%
|
Baik
|
60%
P1
80%
|
Cukup baik
|
50%
P1
60%
|
Kurang baik
|
P1
50%
|
Sangat kurang
|
(Depdiknas dalam Yanti 2008 : 32)
b.
Ketuntasan belajar
Ketuntasan belajar siswa yang dapat dilihat dari peroleha
skor siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan metode demontrasi. Prosentase
ketuntasan dapat dihitung dengan rumus :
P =
x 100%
P= presentase ketuntasan siswa
n= jumlah siswa yang tuntas
N= jumlah seluruh siswa
Tabel
Kriteria keberhasilan siswa
Hasil
belajar siswa
|
Kategori
|
85-100
72-84
60-70
40-59
39
|
Sangat baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat kurang
|
BAB
IV
HASIL
PENELITIAN
4.1 Penyajian Data
4.1.1
Sebelum Penelitian
1)
Tindakan penelitian
a)
Perencanaan Tindakan ( 05 Nopember
2012)
Pengamatan observasi awal pada awal
bulan Nopember dilaksanakan terhadap pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
Wawancara dengan guru bidang studi .
Hal ini dilakukan untuk memperoleh
informasi tentang kondisi kelas selama proses pembelajaran. Observasi dilakukan
peneliti yaitu mencatat model pembelajaran yang digunakan oleh guru dan
aktivitas peserta didik disaat pembelajaran. Dari hasil observasi awal tentang
kegiatan pembelajaran dan hasil wawancara dengan guru bidang studi, dapat
diketahui bahwa metode yang sering dipakai adalah ceramah dan diskusi kelompok
biasa.
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan meliputi :
a)
Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode
demontrasi
b)
Menyiapkan perangkat pembelajaran dan segala sesuatu yang
dibutuhkan selama proses pembelajaran
c)
Menyiapkan materi pembelajaran yang
akan didemontrasikan
d)
Menyusun soal/tes individual pada akhir kegiatan pemblajaran
2)
Pelaksanaan ( 08 Nopember 2012)
Pelaksanaan penelitian dimulai dengan
observasi untuk mengetahui aktivitas belajar sebelum dilaksanakan pembelajaran
dengan menggunakan metode demontrasi, untuk kegiatan awal yang dilakukan guru adalah
menjelaskan tujuan pembelajaran dan model pembelajaran yang akan digunakan dan
melihat pengetahuan dan pemahaman siswa tentang materi. Kegiatan selanjutnya
adalah sebagai berikut :
a.
Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan
siswa untuk belajar.
b.
Guru mendemonstrasikan
keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap.
c.
Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan.
d.
Guru mengecek apakah siswa telah
berhasil melakukan tugas dengan baik.
e.
Guru mempersiapkan kesempatan
untuk melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan
kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari
3)
Observasi atau Pengamatan ( 08
Nopember 2012)
Observasi untuk mengetahui aktivitas
belajar peserta didik selama KBM (sebelum pembelajaran dengan menggunakan
metode demontrasi ) adalah dengan meminta bantuan kepada dua orang observer di
MTs. Al-Amanah kepada peserta didik kelas VIII A yang berjumlah 27 peserta
didik, yang bertujuan untuk meninjau aktivitas peserta didik setelah penerapan
pembelajaran dengan menggunakan metode demontrasi. Adapun elemen aktivitas yang
di amati meliputi:
1)
Mengajukan pertanyaan, 2) melbatkan
diri dalam kelompok 3) diskusi, dan 4) menjawab pertanyaan. Aktivitas belajar
peserta didik dalam pembelajaran sebelum menggunakan metode demontrasi.
Berdasarkan hasil analisis, maka dapat di uraikan
sebagai berikut:
1. Elemen bertanya/mengajukan pendapat
Pada elemen bertanya/mengajukan
pendapat, elemen ini mempunyai 3 indikator yaitu peserta didik
bertanya/mengemukakan pendapat sekali, peserta didik bertanya/mengemukakan
pendapat dua kali dan peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat 3 kali.
Hasil analisis observasi belajar peserta didik pada indikator peserta didik
bertanya/mengemukakan pendapat sekali diperoleh 15 skor. pada indikator peserta
didik bertanya/mengemukakan pendapat dua kali tampak ada 16 skor, dan pada
indikator peserta didik yang bertanya/mengemukakan pendapat 3 kali tampak ada
12 skor. Jadi prosentase pada elemen ini hanya terdapat 53%.
2. Elemen menjawab pertanyaan
Pada elemen aktivitas menjawab
pertanyaan, elemen ini mempunyai 3 indikator yaitu, peserta didik menjawab
pertanyaan dengan benar, peserta didik mampu menjawab 2 pertanyaan dengan benar
dan peserta didik mampu menjawab 3 pertanyaan dengan benar. Hasil analisis
aktivitas diketahui pada indikator peserta didik menjawab pertanyaan dengan
benar terdapat 17 skor, pada indikator peserta didik mampu menjawab 2
pertanyaan dengan benar terdapat 8 skor dan pada indikator peserta didik mampu
menjawab 3 pertanyaan dengan benar terdapat 18 skor. Prosentase pada elemen ini
adalah 53%.
4.1.1.1 Aktivitas Peserta Didik
Observasi untuk mengetahui aktivitas
belajar peserta didik selama KBM (sebelum pembelajaran dengan menggunakan
metode demontrasi ) adalah dengan meminta bantuan kepada dua orang observer di
MTs. Al-Amanah kepada peserta didik kelas VIII A yang berjumlah 27 peserta
didik, yang bertujuan untuk meninjau aktivitas peserta didik setelah penerapan
pembelajaran dengan menggunakan metode demontrasi. Adapun elemen aktivitas yang
di amati meliputi:
2)
Mengajukan pertanyaan, 2) menjawab
pertanyaan. Aktivitas belajar peserta didik dalam pembelajaran sebelum
menggunakan metode demontrasi . Adapun hasil dari aktivitas peserta didik dapat
dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel I Aktivitas belajar peserta didik sebelum proses pembelajaran
dengan menggunakan metode demontrasi .
Elemen aktivitas
|
Ketercapaian (%)
|
Keterangan
|
1.
Bertanya/ mengemukakan pendapat
|
53%
|
K
|
2.
Menjawab pertanyaan
|
53%
|
K
|
Rata-rata
|
53,3%
|
C
|
Keterangan :
SB : P1 ≥ 90%
B : 80% ≤ P1< 90%
C : 60% ≤ P1 < 80%
K : 50% P1 < 60%
SK : P1 < 50%
Berdasarkan hasil analisis, maka dapat di uraikan
sebagai berikut:
1. Elemen bertanya/mengajukan pendapat
Pada elemen bertanya/mengajukan
pendapat, elemen ini mempunyai 3 indikator yaitu peserta didik
bertanya/mengemukakan pendapat sekali, peserta didik bertanya/mengemukakan
pendapat dua kali dan peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat 3 kali.
Hasil analisis observasi belajar peserta didik pada indikator peserta didik
bertanya/mengemukakan pendapat sekali diperoleh 15 skor. pada indikator peserta
didik bertanya/mengemukakan pendapat dua kali tampak ada 16 skor, dan pada
indikator peserta didik yang bertanya/mengemukakan pendapat 3 kali tampak ada
12 skor. Jadi prosentase pada elemen ini hanya terdapat 53%.
2. Elemen menjawab pertanyaan
Pada elemen aktivitas menjawab
pertanyaan, elemen ini mempunyai 3 indikator yaitu, peserta didik menjawab
pertanyaan dengan benar, peserta didik mampu menjawab 2 pertanyaan dengan benar
dan peserta didik mampu menjawab 3 pertanyaan dengan benar. Hasil analisis
aktivitas diketahui pada indikator peserta didik menjawab pertanyaan dengan
benar terdapat 17 skor, pada indikator peserta didik mampu menjawab 2
pertanyaan dengan benar terdapat 8 skor dan pada indikator peserta didik mampu
menjawab 3 pertanyaan dengan benar terdapat 18 skor. Prosentase pada elemen ini
adalah 53%.
Lembar
observasi aktivitas peserta didik sebelum tindakan dapat dilihat pada lampiran
Tabel VIII rekapitulasi nilai harian peserta
didik sebelum tindakan
Jumlah
|
Skor rata-rata
|
Ketuntasan klasikal
|
1777
|
65
|
11%
|
Analisis
belajar peserta didik sebelum tindakan dapat dilihat pada lampiran
4.1.1.2 Hasil Belajar Peserta Didik
Adapun
hasil belajar peserta didik dapat dilihat di tabel dibawah ini :
Tabel II rekapitulasi nilai harian peserta didik sebelum tindakan
No
|
Nilai
|
Sebelum Tindakan
|
Jumlah Peserta Didik
|
Pesrsentase ( % )
|
1
|
≥ 70
|
3
|
11,1 %
|
2
|
< 70
|
24
|
88,9 %
|
Jumlah
|
27
|
100 %
|
Dari
tabel diatas maka dapat dapat diuraikan bahwa dari 27 peserta didik, terdapat 3
peserta didik yang yang tuntas dan 24 peserta didik yang tuntas dengan ketuntasan
klasikal 11%.
4.1.2 Selama Penelitian
4.1.2.1 Siklus I (Pertemuan I)
Pelaksanaan Siklus I
dilaksanakan pada 13 November 2012 dengan pedoman pada rencana pembalajaran.
Pembalajaran pada siklus I berlangsung selama 2 x 40 menit. Kegiatan yang
dilakukan pada pembelajaran ini meliputi :
a. Kegiatan awal
1. Melakukan apersepsi dan memberikan motivasi
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran
3. Menjelaskan tata cara penerapan metode
demontrasi
b. Kegiatan inti
1. Guru mendemontrasikan
keterampilan dengan benar, atau menyajikan
informasi tahap demi tahap
2. Guru merencanakan
dan member bimbingan pelatihan.
3. Guru mengecek apakah siswa telah
berhasil melakukan tugas dngan baik
4. Guru mempersiapkan kesempatan
untuk melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan
kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari
c. Kegiatan akhir
1. Guru bersama
peserta didik menarik kesimpulan tentang materi yang dipelajari.
2. Guru memberikan evaluasi individu.
4.1.2.2 Siklus I (Pertemuan II)
Pelaksanaan Siklus I
dilaksanakan pada 19 November 2012 dengan pedoman pada rencana pembalajaran.
Pembalajaran pada siklus I berlangsung selama 2 x 40 menit. Kegiatan yang
dilakukan pada pembelajaran ini meliputi :
a. Kegiatan awal
1. Melakukan apersepsi dan memberikan motivasi
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran
3. Menjelaskan tata cara penerapan metode demontrasi
b. Kegiatan inti
1. Guru mendemontrasikan
keterampilan dengan benar, atau menyajikan
informasi tahap demi tahap
2. Guru merencanakan
dan member bimbingan pelatihan.
3. Guru mengecek apakah siswa telah
berhasil melakukan tugas dngan baik
4. Guru mempersiapkan kesempatan
untuk melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan
kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.
c. Kegiatan akhir
1. Guru bersama
peserta didik menarik kesimpulan tentang materi yang dipelajari.
2. Guru memberikan evaluasi individu.
4.1.2.3 Aktivitas Belajar Peserta Didik
Aktivitas belajar
peserta didik pada Siklus I dapat dilihat dibawah ini :
Tabel III Aktifitas belajar
peserta didik selama proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran
demontrasi pada siklus 1
Elemen aktivitas
|
Ketercapaian (%)
|
Keterangan
|
1.
Bertanya/ mengemukakan pendapat
|
66.6%
|
C
|
2.
Menjawab pertanyaan
|
62,9%
|
C
|
Rata-rata
|
17,5%
|
B
|
Keterangan :
SB : P1 ≥ 90%
B : 80% ≤ P1< 90%
C : 60% ≤ P1 < 80%
K : 50% P1 < 60%
SK : P1 < 50%
Berdasarkan hasil analisis, maka dapat
diuraikan sebagai berikut:
1. Elemen bertanya/mengemukakan pendapat
Pada elemen bertanya/mengemukakan
pendapat, elemen ini mempunyai 3 indikator yaitu peserta didik bertanya /
mengemukakan pendapat sekali, peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat
dua kali dan peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat 3 kali. Hasil
analisis observasi aktivitas belajar peserta didik pada tindakan siklus 1
diketahui bahwa pada indikator peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat
sekali terdapat 9 skor. Pada indikator peserta didik bertanya / mengemukakan
pendapat dua kali terdapat 18 skor. Sedangkan pada indikator peserta didik
bertanya / mengemukakan pendapat 3 kali terdapat 27 skor. Jadi aktivitas ini prosentasenya
adalah 66,6%.
2. Elemen menjawab pertanyaan
Pada elemen aktivitas menjawab pertanyaan,
elemen aktivitas ini mempunyai 3 indikator yaitu peserta didik menjawab satu
pertanyaan dengan benar, peserta didik mampu menjawab dua pertanyaan dengan
benar, dan peserta didik mampu menjawab tiga pertanyaan dengan benar. Hasil
analisis aktivitas diketahui bahwa pada indikator peserta didik menjawab satu
pertanyaan dengan benar terdapat 7 skor, pada indikator peserta didik mampu
menjawab dua pertanyaan dengan benar terdapat 32 skor, sedangkan pada indikator
peserta didik mampu menjawab 3 pertanyaan dengan benar terdapat 12 skor. Hasil
prosentase elemen ini yaitu 62,9%.
Berdasarkan permasalahan tersebut, aktivitas
belajar peserta didik dalam pembelajaran IPS dengan menggunakan metode
pembelajaran demontrasi perlu ditingkatkan. Meskipun pada
indikator-indikator elemen aktivitas
yang lain sudah ada yang mencapai 71,6%.
4.1.2.4
Hasil Belajar Peserta Didik
Dalam pembelajaran dengan menggunakan metode
pembelajaran demontrasi setiap akhir siklus tindakan dilaksanakan tes
individu, hal ini untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap
materi yang sudah disampaikan. Dan untuk mengetahui tingkat perkembangan
ketercapaian belajar peserta didik setelah menggunakan pembelajaran demontrasi.
Soal tes individu berupa 5 butir soal isian.
Hasil tes individu pada tindakan siklus 1
menunjukkan bahwa dari 27 peserta didik mencapai skor 70 atau lebih, atau dapat
dikatakan telah tuntas belajar. Sedangkan untuk ketuntasan belajar peserta didik maksimal sebesar 100%
seorang peserta didik dikatakan tuntas belajar apabila talah mencapai skor 70
atau lebih, suatu kelas dikatakan tuntas belajar apabila 75% peserta didik di
kelas tersebut mencapai skor 70 atau lebih. Hal ini sesuai dengan Kreteria
Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan oleh MTs al-Amanah.
Tabel IV Rekapitulasi nilai harian peserta
didik pada siklus 1
No
|
Nilai
|
Siklus I
|
Jumlah Peserta Didik
|
Pesrsentase ( % )
|
1
|
≥ 70
|
16
|
59,2 %
|
2
|
< 70
|
11
|
40,8%
|
Jumlah
|
27
|
100 %
|
4.1.2.5 Refleksi
tindakan I (22 Nopember 2012)
Setiap akhir siklus dilakukan refleksi tindakan
yang didasarkan pada hasil observasi untuk diambil langkah-langkah perbaikan
pada siklus berikutnya. Tujuannya agar terjadi proses pembelajaran yang lebih
baik lagi.
Berdasarkan paparan data hasil siklus tindakan
I, dapat direfleksikan bahwa aktivitas belajar peserta didik terutama indikator
peserta didik tidak pernah mengajukan pertanyaan sama sekali terdapat 9 skor,
yang tergolong taraf keberhasilan Cukup masih perlu ditingkatkan untuk bisa ke
tingkat baik.
Permasalahan yang perlu dibenahi yaitu peserta
didik belum terbiasa dengan penggunaan metode
demontrasi yang menekankan peserta didik untuk belajar aktif dan kreatif
dalam mempelajari materi yang lain.
Setelah dilakukan diskusi dengan guru bidang
studi dan peneliti, maka diambil rencana perbaikan tindakan untuk siklus II.
4.1.2.6 Siklus
II (Pertemuan I)
Pelaksanaan Siklus II
pertemuan ke I dilaksanakan pada 26 November 2012 dengan pedoman pada rencana
pembalajaran. Pembalajaran pada siklus I berlangsung selama 2 x 40 menit.
Kegiatan yang dilakukan pada pembelajaran ini meliputi :
a. Kegiatan awal
1. Melakukan apersepsi dan memberikan motivasi
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran
3. Menjelaskan tata cara penerapan metode
pembelajaran demontrasi.
b. Kegiatan inti
1. Guru mendemontrasikan
keterampilan dengan benar, atau menyajikan
informasi tahap demi tahap
2. Guru merencanakan
dan member bimbingan pelatihan.
3. Guru mengecek apakah siswa telah
berhasil melakukan tugas dngan baik
4. Guru mempersiapkan kesempatan
untuk melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan
kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari
c. Kegiatan akhir
1. Guru bersama
peserta didik menarik kesimpulan tentang materi yang dipelajari.
2. Guru memberikan evaluasi individu.
4.1.2.7 Siklus II (Pertemuan II)
Pelaksanaan Siklus II
pertemuan ke II dilaksanakan pada 29 November 2012 dengan pedoman pada rencana
pembalajaran. Pembalajaran pada siklus I berlangsung selama 2 x 40 menit.
Kegiatan yang dilakukan pada pembelajaran ini meliputi :
a. Kegiatan awal
1. Melakukan apersepsi dan memberikan motivasi
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran
3. Menjelaskan tata cara penerapan metode
demontrasi
b. Kegiatan inti
1. Guru mendemontrasikan
keterampilan dengan benar, atau menyajikan
informasi tahap demi tahap
2. Guru merencanakan
dan member bimbingan pelatihan.
3. Guru mengecek apakah siswa telah
berhasil melakukan tugas dngan baik
4. Guru mempersiapkan kesempatan
untuk melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan
kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.
c. Kegiatan akhir
1. Guru bersama
peserta didik menarik kesimpulan tentang materi yang dipelajari.
2. Guru memberikan evaluasi individu.
4.1.2.8 Aktivitas Belajar Peserta
Didik
Aktivitas belajar peserta didik dapat dilihat
pada tabel V dibawah ini :
Table V
Aktivitas belajar peserta didik selama proses pembelajaran dengan menggunakan
metode pembelajaran demontrasi pada siklus II
Elemen aktivitas
|
Ketercapaian (%)
|
Keterangan
|
1.
Bertanya/ mengemukakan pendapat
|
83,9%
|
B
|
2.
Menjawab pertanyaan
|
86,4%
|
B
|
Rata-rata
|
23%
|
SB
|
Keterangan :
SB : P1 ≥ 90%
B : 80% ≤ P1< 90%
C : 60% ≤ P1 < 80%
K : 50% P1 < 60%
SK : P1 < 50%
Berdasarkan hasil analisis,maka dapat diuraikan
sebagai berikut:
1. Elemen bertanya/mengemukakan pertanyaan
Pada elemen bertanya/mengemukakan
pertanyaan, elemen aktivitas ini mempunyai 3 indikator yaitu peserta didik
bertanya/mengemukakan pendapat sekali, peserta didik bertanya/mengemukakan
pendapat dua kali dan peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat 3 kali.
Hasil analisis observasi aktivitas belajar peserta didik diketahui mengalami
peningkatan dari siklus I yaitu dari 66,6% menjadi 83,9%. Hal ini dikarenakan
sudah dilakukan refleksi pada siklus I.
2. Elemen menjawab pertanyaan
Pada elemen menjawab pertanyaan,
elemen aktivitas ini mempunyai 3 indikator yaitu peserta didik menjawab 1
pertanyaan dengan benar, peserta didik mampu menjawab 2 pertanyaan dengan
benar, dan peserta didik mampu menjawab 3 pertanyaan dengan benar. Hasil
analisis observasi aktivitas menjawab pertanyaan diketahui mengalami
peningkatan dari 62,9% menjadi 86,4%. Hal ini disebabkan karena peserta didik
bersungguh-sungguh mencari jawaban dari tugas yang diberikan guru. Mereka sudah
tidak main-main lagi karena sudah mengerti akan pentingnya ilmu terutama dalam
pembelajaran IPS.
Aktivitas belajar peserta didik pada siklus
tindakan II yang terkait dengan penggunaan metode demontrasi yaitu suatu upaya
atau praktek dengan menggunakan peragaan yang di tujikan pada siswa yang
tujuannya ialah agar supaya semua siswa lebih mudah dalam memahami materi
pembelajaran .
4.1.2.9
Hasil Belajar Peserta Didik
Dalam pembelajaran dengan menggunakan metode
demontrasi setiap akhir siklus tindakan dilaksanakan tes individu, hal ini
untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap materi yang sudah
disampaikan dan untuk mengetahui tingkat perkembangan ketercapaian belajar
peserta didik setelah diajar dengan metode pembelajaran demontrasi. Soal tes
individu berupa 5 butir soal isian.
Hasil tes individu siklus tindakan II
menunjukkan bahwa dari 27 peserta didik terdapat 24 peserta didik yang mencapai
skor 70 atau lebih atau dapat diakatakan telah tuntas belajar. Sedangkan untuk
ketuntasan belajar klasikal sebesar 88%. Seorang peserta didik dikatakan tuntas
belajar apabila 75% peserta didik di kelas tersebut mencapai skor 70 atau
lebih. Hal ini telah sesuai dengan criteria minimum (KKM) yang telah ditetapkan
oleh MTs al-Amanah.
Table VI rekapitulasi nilai harian peserta
didik pada siklus II
No
|
Nilai
|
Siklus II
|
Jumlah Peserta Didik
|
Pesrsentase ( % )
|
1
|
≥ 70
|
25
|
92,6 %
|
2
|
< 70
|
2
|
7,4 %
|
Jumlah
|
27
|
100 %
|
4..2 Analisis data
1) Pelaksanaan (13 Nopember 2012)
b. Pelaksanaan penelitian di mulai dengan
observasi untuk mengetahui aktivitas belajar peserta didik sebelum dilaksanakan
pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi selama 10
menit.
c. Kegiatan penelitian di awali dengan
pembelajaran guru tentang cara dan tujuan pembelajaran dengan menggunakan
metode pembelajaran demontrasi dengan merencanakan
dan memberi
bimbingan pelatihan.
d. Guru menjelaskan sedikit tentang materi pelaku
ekonomi.
2) Observasi atau pengamatan (13 Nopember 2012)
Untuk mengetahui aktivitas belajar peserta
didik selama proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran
demontrasi dilakukan observasi kepada peserta didik kelas VIII A yang berjumlah
27 peserta didik dengan bantuan 2 observasi yang merupakan guru praktikan
dengan elemen aktivitas yang diamati meliputi: 1) Bertanya/menjawab pertanyaan,
2) Melibatkan diri dalam kelompok, 3) Diskusi, dan 4) Menjawab pertanyaan.
Aktivitas belajar peserta didik dalam pembelajaran dengan menggunakan metode
pembelajaran demontrasi.
Berdasarkan hasil analisis, maka dapat
diuraikan sebagai berikut:
1. Elemen bertanya/mengemukakan pendapat
Pada elemen bertanya/mengemukakan
pendapat, elemen ini mempunyai 3 indikator yaitu peserta didik bertanya /
mengemukakan pendapat sekali, peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat
dua kali dan peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat 3 kali. Hasil
analisis observasi aktivitas belajar peserta didik pada tindakan siklus 1 diketahui
bahwa pada indikator peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat sekali
terdapat 9 skor. Pada indikator peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat
dua kali terdapat 18 skor. Sedangkan pada indikator peserta didik bertanya /
mengemukakan pendapat 3 kali terdapat 27 skor. Jadi aktivitas ini prosentasenya
adalah 66,6%.
2. Elemen menjawab pertanyaan
Pada elemen aktivitas menjawab pertanyaan,
elemen aktivitas ini mempunyai 3 indikator yaitu peserta didik menjawab satu
pertanyaan dengan benar, peserta didik mampu menjawab dua pertanyaan dengan
benar, dan peserta didik mampu menjawab tiga pertanyaan dengan benar. Hasil
analisis aktivitas diketahui bahwa pada indikator peserta didik menjawab satu
pertanyaan dengan benar terdapat 7 skor, pada indikator peserta didik mampu
menjawab dua pertanyaan dengan benar terdapat 32 skor, sedangkan pada indikator
peserta didik mampu menjawab 3 pertanyaan dengan benar terdapat 12 skor. Hasil
prosentase elemen ini yaitu 62,9%.
Tabel IX
Aktifitas belajar peserta didik selama proses pembelajaran dengan menggunakan
metode pembelajaran demontrasi pada siklus 1
Elemen aktivitas
|
Ketercapaian (%)
|
Keterangan
|
1.
Bertanya/ mengemukakan pendapat
|
66.6%
|
C
|
2.
Menjawab pertanyaan
|
62,9%
|
C
|
Rata-rata
|
17,5%
|
B
|
Keterangan :
SB : P1 ≥ 90%
B : 80% ≤ P1< 90%
C : 60% ≤ P1 < 80%
K : 50% P1 < 60%
SK :
P1 < 50%
Berdasarkan permasalahan tersebut, aktivitas
belajar peserta didik dalam pembelajaran Ips dengan menggunakan metode
pembelajaran demontrasi perlu ditingkatkan. Meskipun pada indikator-indikator elemen aktivitas yang lain sudah ada yang
mencapai 71,6%.
Lembar
observasi aktivitas peserta didik sebelum tindakan dapat dilihat pada lampiran
3) Ketuntasan belajar peserta didik dalam
penggunaan metode pembelajaran demontrasi
Dalam pembelajaran dengan menggunakan metode
pembelajaran demontrasi setiap akhir siklus tindakan dilaksanakan tes
individu, hal ini untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap
materi yang sudah disampaikan. Dan untuk mengetahui tingkat perkembangan
ketercapaian belajar peserta didik setelah menggunakan pembelajaran demontrasi.
Soal tes individu berupa 5 butir soal isian.
Hasil tes individu pada tindakan siklus 1
menunjukkan bahwa dari 27 peserta didik mencapai skor 70 atau lebih, atau dapat
dikatakan telah tuntas belajar. Sedangkan untuk ketuntasan belajar peserta didik maksimal sebesar 100%
seorang peserta didik dikatakan tuntas belajar apabila talah mencapai skor 70
atau lebih, suatu kelas dikatakan tuntas belajar apabila 75% peserta didik di
kelas tersebut mencapai skor 70 atau lebih. Hal ini sesuai dengan Kreteria
Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan oleh MTs al-Amanah.
Tabel X rekapitulasi nilai harian peserta didik
pada siklus 1
Jumlah
|
Skor rata-rata
|
Ketuntasan klasikal
|
1883
|
69
|
59,2%
|
Analisis
belajar peserta didik pada siklus I dapat dilihat pada lampiran
4) Refleksi
tindakan I (23 Nopember 2012)
Sestiap akhir siklus dilakukan refleksi
tindakan yang didasarkan pada hasil observasi untuk diambil langkah-langkah
perbaikan pada siklus berikutnya. Tujuannya agar terjadi proses pembelajaran
yang lebih baik lagi.
Berdasarkan paparan data hasil siklus tindakan
I, dapat direfleksikan bahwa aktivitas belajar peserta didik terutama indikator
peserta didik tidak pernah diskusi sama sekali terdapat 11 skor, yang tergolong
taraf keberhasilan Cukup masih perlu ditingkatkan untuk bisa ke tingkat baik.
Permasalahan yang perlu dibenahi yaitu peserta
didik belum terbiasa dengan penggunaan metode pembelajaran demontrasi
yang menekankan peserta didik untuk belajar aktif dan berfikir kreatif dalam
memperlajari suatu materi pelajaran.
Setelah dilakukan diskusi dengan guru bidang
studi dan peneliti, maka diambil rencana perbaikan tindakan untuk siklus II.
3. Ketuntasan belajar peserta didik dalam
pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi
Dalam pembelajaran dengan menggunakan metode
pembelajaran demontrasi setiap akhir siklus tindakan dilaksanakan tes individu,
hal ini untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap materi
yang sudah disampaikan dan untuk mengetahui tingkat perkembangan ketercapaian
belajar peserta didik setelah diajar dengan metode pembelajaran demontrasi.
Soal tes individu berupa 5 butir soal isian.
Hasil tes individu siklus tindakan II menunjukkan
bahwa dari 27 peserta didik terdapat 24 peserta didik yang mencapai skor 70
atau lebih atau dapat diakatakan telah tuntas belajar. Sedangkan untuk
ketuntasan belajar klasikal sebesar 88%. Seorang peserta didik dikatakan tuntas
belajar apabila 75% peserta didik di kelas tersebut mencapai skor 70 atau
lebih. Hal ini telah sesuai dengan kriteria minimum (KKM) yang telah ditetapkan
oleh MTs al-Amanah.
Table XII rekapitulasi nilai harian peserta
didik pada siklus II
Jumlah
|
Skor rata-rata
|
Ketuntasan klasikal
|
1962
|
72
|
92%
|
Analisis
belajar peserta didik pada siklus II dapat dilihat pada lampiran 11
4.3 Pembahasan / Interprestasi
4.3.1
Aktivitas belajar peserta
didik sebelum menggunakan metode pembelajaran demontrasi.
Berdasarkan hasil analisis aktivitas belajar peserta didik sebelum
menggunakan metode pembelajaran demontrasi menunjukkan taraf
keberhasilan rendah dibandingkan setelah pembelajaran menggunakan metode pembelajaran demontrasi. Yang dapat dianalisis bahwa pada elemen bertanya/mengemukakan pendapat prosentase aktivitas peserta didik hanya
mencapai 53%, dan elemen menjawab pertanyaan prosentasenya sebanyak 53%.
4.3.2
Aktivitas belajar peserta
didik dalam penggunaan metode pembelajaran demontrasi
Berdasarkan hasil nilai analisis aktivitas peserta didik yang dilakukan
setiap siklus tindakan dalam penggunaan metode pembelajaran demontrasi terhadap
aktivitas belajar dan ketuntasan belajar peserta didik menunjukkan peningkatan
yang sangat baik, ditunjukkan pada tabel XIII
Tabel XIII Daftar rekapitulasi
aktivitas belajar peserta didik
Elemen Aktivitas
|
Siklus Belajar
|
Keterangan
|
Sebelum
|
Siklus
|
|
I
|
II
|
1.
Bertanya/mengemukakan pendapat
2.
Menjawab pertanyaan
|
53%
53%
|
66,6%
62,9%
|
83,9%
86,4%
|
SB
SB
|
Rata-rata
|
14.3%
|
17,5%
|
23%
|
SB
|
Keterangan :
SB : P1 ≥ 90%
B : 80% ≤ P1< 90%
C : 60% ≤ P1 < 80%
K : 50% P1 < 60%
SK : P1 < 50%
Berdasarkan tabel XIII akan dibahas tentang persamaan, perbedaan dan
perubahan hasil observasi elemen aktivitas belajar peserta didik dalam
pemebelajaran dengan metode pembelajaran demontrasi dari 2 siklus tindakan yang
telah dilakukan, meliputi:
1.
Elemen
bertanya/mengemukakan pendapat
Pada elemen aktivitas bertanya atau mengemukakan pendapat,
elemen ini mempunyai
3 indikator yaitu peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat sekali, peserta didik
bertanya/mengemukakan pendapat dua
kali dan peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat tiga kali. Hasil analisis
observasi belajar pada indikator peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat sekali tampak pada siklus
I sebanyak 9 skor, siklus II sebanyak 2 skor. Pada indikator ini
mengalami penurunan. Pada indikator peserta didik bertanya/mengemukakan
pendapat dua kali tampak pada siklus I diperoleh 18 skor, siklus
II diperoleh 18 skor. Dalam indikator ini tidak
mengalami peningkatan. Pada indikator peserta didik
bertanya/mengemukakan pendapat tiga kali pada siklus I sebanyak 27 skor, siklus II mengalami peningkatan signifitas
sebanyak 48 skor.
2.
Elemen menjawab pertanyaan
Pada elemen menjawab pertanyaan, elemen ini mempunyai 3
indikator yaitu peserta didik menjawab 1) pertanyaan dengan benar, peserta didik mampu
menjawab. 2) pertanyaan dengan benar
dan peserta didik menjawab 3 pertanyaan dengan benar. Hasil analisis observasi
aktivitas belajar peserta didik pada indikator peserta didik menjawab 1 pertanyaan dengan benar
pada siklus I terdapat 7 skor, pada siklus II terdapat
2 skor. Pada indikator peserta didik mampu menjawab 2 pertanyaan dengan benar
pada siklus I terdapat 32 skor sedangkan pada siklus II terdapat 14 skor, dan pada indikator
peserta didik mampu menjawab 3 pertanyaan dengan benar pada siklus I terdapat 12 skor dan pada siklus II
terdapat 54
skor.
Berdasarkan hasil analisis aktivitas belajar peserta didik di atas
diketahui bahwa penggunaan metode pembelajaran demontrasi dapat meningkatkan
aktivitas belajar peserta didik. Hal ini dapat dibandingkan dari aktivitas
sebelum dan sesudah pembelajaran dari peningkatan persiklus.
Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa aktivitas seorang
peserta didik akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya,
yaitu semakin tinggi aktivitas peserta didik maka semakin tinggi pula prestasi
belajar dalam bidang studi IPS. Begitu pula sebaliknya semakin rendah tingkat aktivitas belajar, maka
prestasi dalam bidang studi biologi juga semakin rendah
2.3.3
Ketuntasan belajar peserta
didik dalam pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi
Berdasarkan hasil belajar peserta didik sebelum pembelajaran dengan
menggunakan metode demontrasi pada kompetensi dasar sistem gerak pada manusia menunjukkan hasil yang
rendah dengan nilai rata-rata 63,4. hal ini disebabkan guru dalam KBM sering
menggunakan metode ceramah sehingga membuat peserta didik pasif dan cepat bosan
dengan materi tersebut.
Pelaksanaan tes akhir siklus dilakukan selama 15 menit pada setiap
akhir siklus. Dari hasil tersebut setiap siklus ada peningkatan. Diketahui
bahwa hasil belajar peserta didik dapat dikatakan baik dengan ketuntasan
klasikal 100%. Semua peserta didik tuntas dalam belajar dengan nilai terendah
yang dicapai peserta didik adalah 70 dan nilai tertinggi adalah 100.
peningkatan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode
pembelajaran demontrasi dapat meningkatkan prestasi belajar IPS, dimana angka tersebut sudah menunjukkan
ketercapaian ketuntasan belajar klasikal.
Seorang peserta didik dikatakan tuntas apabila teleh mencapai skor 70
atau lebih dan kelas tersebut dikatakan tuntas belajar apabila 75% peserta
didik di kelas tersebut mencapai skor 70. hasil tes tindakan I menunjukkan
bahwa dari 27 peserta didik terdapat 16 peserta
didik yang mencapai skor 70 lebih. Tes siklus tindakan I diperoleh skor 1883 dengan ketuntasan 59%. Hasil dari siklus
tindakan II diperoleh skor 1962 dengan ketuntasan 95%. Analisis hasil belajar peserta didik dari sebelum tindakan hingga
tindakan pada siklus II disajikan dalam tabel XIV
Tabel XIV Hasil belajar peserta
didik
|
Sebelum Tindakan
|
Siklus I
|
Siklus II
|
Jumlah
|
1777
|
1883
|
1962
|
Skor rata-rata
|
65
|
69
|
72
|
Ketuntasan Klasikal
|
11%
|
59%
|
92,5%
|
Hasil ini sesuai dengan pernyataan Sadirman (1990: 40) bahwa
tercapainya tujuan pembelajaran/hasil pengajaran itu sangat dipengaruhi oleh
bagaimana aktivitas peserta didik di dalam belajar dan motivasi sebagai
pendorong usaha dalam pencapaian prestasi.
2.3.4
Kesan (respon) peserta
didik tentang metode pembelajaran demontrasi
Jawaban yang diberikan peserta didik dapat diuraikan bahwa seluruh
peserta didik dapat merasa sangat senang belajar dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi. Peserta didik berpendapat bahwa
dengan adanya pembelajaran metode demontrasi
, peserta didik terdorong untuk mengusai materi
pelajaran IPS
secara mendalam, peserta didik lebih aktif dari pada pembelajaran biasa,
peserta didik lebih semangat dengan belajar kelompok. Dengan adanya metode
pembelajaran demontrasi peserta didik dapat menjawab atau mengerjakan tugas dengan
sungguh-sungguh. Selain itu, peserta didik lebih berani untuk mengemukakan
pendapatnya. Dengan demikian kegiatan pembelajaran metode demontrasi ini sangat membantu peserta didik
dan peserta didik tidak cepat merasa bosan.
Dari
penjabaran analisis hasil/respon peserta didik di atas, dapat disimpulkan bahwa
peserta didik lebih senang belajar IPS melalui penggunaan metode
demontrasi.
Subiyanto (1998) menyatakan dalam penelitian bahwa pelajaran, metode dan
penggunaan model di tentukan oleh tujuan. Begitu juga penentuan evaluasi
ditentukan oleh model dan tujuan.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1
Simpulan
Berdasarkan paparan dan pembahsan data hasil penelitian tentang
aktivitas belajar dan ketuntasan belajar peserta didik Ips kelas VIII A dengan metode
pembelajaran demontrasidi MTs al-Amanah dari 2 siklus tindakan, dapat
disimpulkan bahwa:
1.
Penggunaan metode pembelajaran
demontrasi dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik pada mata pelajaran IPS kelas VIII semester I dengan kompetensi dasar mendeskripsikan pelaku ekonomi rumah tangga,
masyarakat, perusahaan, koperasi dan negara di MTs. Al-Amanah tahun pelajaran 2011-2012 di MTs. Al-Amanah kec. Besuki Kab.
Situbondo.
2.
Penggunaan metode pembelajaran demontrasi dapat meningkatkan
hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran IPS kelas VIII semester I dengan kompetensi dasar mendeskripsikan pelaku ekonomi rumah tangga,
masyarakat, perusahaan, koperasi dan negara di MTs. Al-Amanah tahun pelajaran 2011-2012 di MTs. Al-Amanah kec. Besuki Kab.
Situbondo.
5.2
Saran
Adapun beberapa saran yang bisa peneliti sampaikan sehubungan dengan
dengan judul penelitian “penerapan metode
demonstrasi untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar peserta didik pada mata
pelajaran IPS
kelas VIII semester I dengan kompetensi dasar mendeskripsikan
pelaku ekonomi rumah tangga, masyarakat, perusahaan, koperasi dan negara di
MTs. Al-Amanah tahun pelajaran 2011-2012 di MTs. Al-Amanah
kec. Besuki Kab. Situbondo.” yang kiranya menjadi bahan pertimbangan untuk
perbaikan proses pembelajaran, yaitu:
1. Mengingat
metode pembelajaran demontrasi sangat efektif untuk meningkatkan aktivitas belajar
dan ketuntasan belajar peserta didik, maka model pembelajaran ini dapat
digunakan dengan variasi model pembelajaran kooperatif.
2.
Penelitian ini dilakukan hanya sebatas kepada peserta
didik kelas VIII A MTs al-Amanah, maka peneliti menyarankan agar peneliti lain lebih
memperluas subyek yang melibatkan sekolah-sekolah yang mempunyai prestasi lebih
heterogen.
DAFTAR PUSTAKA
Arikonto, Suharsimi. 2003. Dasar-Dasar
Evaluasi pendidikan. Bumi Aksara. Jakarta.
Azwar, Saifuddin. 1995. Sikap
manusia Teori dan Pengukurannya; Edisi ke 2. Pustaka belajar, Yogyakarta.
Dimyati
dan Mujiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka
Cipta.
Frazee, Bruce and Rudnistko, Rose.
1995. Integrated Teaching Methods; Theory, Classroom
Aplications and Fields-based Connections. New York: Delmar Publisher.
Hamalik Oemar. 2001. Perencanaan
Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta : Bumi Aksara.
Hartantin,
Jatu.2004. Penerapan Pembelajaran Kooperatif
Ibrahim, Dkk. 2000. Pembelajaran
Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya
Kemmis, S & Taggart, M.C. 1992. The
action research Planner, Victoria: Deakin Unevercity Press
Lie, Anita. 2002 Cooperatif
Learning; Mempraktikkan coperatife Learning di
Ruang-Ruang kelas. Gramedia WidiasaranaIndonesia, Jakarta.
Nur, M. 2005. Pembelajaran
Kooperatif. Surabaya: Departemen Pendidikan Nasional
Slavin, R. E. 1995. Cooperative
Learning : Theory, Research, practice. Boston: Allyn and bacon.
Sukarnyana, I. 2002. Penelitian
Tindakan Kelas. Malang: Proyek penigkatan pusat pengembangan penataran
guru malang.