Halaman

Sabtu, 21 September 2013

Skripsi Penerapan metode demonstrasi pada mata pelajaran ekonomi kelas VIII semester I materi pelaku ekonomi


BAB I
 PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Pendidikan mempunyai posisi strategis dalam rangka peningkatan kualitas  sumber daya manusia. Posisi yang strategis tersebut dapat tercapai apabila pendidikan yang dilaksanakan mempunyai kualitas.
Kualitas pendidikan dapat diketahui dari dua hal, yaitu : kualitas proses dan produk (Sudjana, 2000: 35). Suatu pendidikan dikatakan berkualitas proses apabila proses belajar mengajar (PBM) dapat berlangsung secara efektif dan peserta didik mengalami proses pembelajaran yang   bermakna. Pendidikan disebut berkualitas produk  apabila  peserta  didik  menunjukkan  tingkat  penguasaan  yang  tinggi terhadap tugas-tugas belajar sesuai dengan sasaran dan tujuan pendidikan. Hal ini dilihat pada hasil belajar    yang dinyatakan dalam proses akademik Kemampuan guru dalam mengajar banyak berpengaruh terhadap keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan, artinya keterlibatan guru secara langsung dalam proses belajar mengajar sangat menentukan keberhasilan proses pendidikan. Dalam menyajikan materi pelajaran dapat digunakan pendekatan dan metode yang dapat memudahkan siswa dalam belajar.
Salah satu contoh dalam menyajikan materi pelajaran ips dapat digunakan metode demonstrasi. Seorang guru diharapkan dapat menyajikan meteri dengan menggunakan metode demonstrasi yang dapat membantu proses belajar mengajar di kelas agar penyampaian materi lebih mudah diserap oleh siswa. Namun, tidak banyak guru yang menggunakan dan memanfaatkan metode tersebut. Akibatnya para siswa merasa sulit dan memerlukan waktu yang lama untuk memahami materi pelajaran yang diajarkan.
Dari data yang saya peroleh di Mts Al-amanah kelas VIII dari 27 siswa hanya 3 siswa yang dapat menjawab dan menyelesaikan tugas-tugas dengan baik. Jika di lihat dari hasil nilai ulangan harian siswa Mts Al-amanah kelas VIII yaitu niali tertinggi 80 dan nilai terendah 60 sehigga rata-rata nilai pesarta didik 65% dengan KKM =70. Atas dasar hal tersebut dimungkinkan karena kurang termotivasinya siswa yang disebabkan guru tidak menggunakan metode yang kurang menarik perhatian siswa dalam menyampaikan materi pelajarannya. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Penerapan metode demonstrasi untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran ekonomi kelas VIII semester I materi pelaku ekonomi di Mts AL-amanah besuki kabupaten situbondo tahun 2012/2013
Pada saat ini pelajaran ekonomi menjadi kurang menantang kegairahan belajar siswa karena siswa tidak di libatkan secara aktif untuk belajar dan mengembangkan sendiri konsep konsep atau pengetahuan yang diperoleh.dari guru dan buku atau sumber, siswa tidak diajak untuk  kritis dan termotivasi belajar secara bersemangat dan menyenangi kegiatan belajar ekonomi sehingga pembelajaran tidak terasa membosankan dan monoton.
Menurut Mudjino (2002: 10) Belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari  stimulasi yang berasal dari lingkungan, dan proses kognitif yang dilakukan oleh pembelajar. Dengan demikian, belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah. Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar dapat dipandang dari dua subjek, yaitu dari siswa dan guru. Dari segi siswa, belajar dialami sebagai suatu proses, siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Dari guru, proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang sesuatu hal.
            Pembelajran ekonomi adalah bagian dari ilmu sosial yang bersifat dinamis dalam perkembangan informasi, setiap saat dapat terjadi perubahan ysng memerluksn solusi berbeda beda pula. Untuk itu metode yang digunakan dalam mengajar haruslah metode yang  fleksibel dan tidak bersifat mengajarkan hafalan saja tetapi juga pemahaman dan pengalaman langsung yang dapat di aplikasikan dalam masalah atau informasi atau juga isu yang berbeda beda dikehidupan nyata sehari-harinya dan mengarah kepada peningkatan kearah berfikir rasional siswa.
 Pada mata pelajaran ekonomi yang baik dan untuk mengatasi berbagai kelemahan dalam proses belajar mengajar adalah dengan menggunakan metode pembelajaran demonstrasi. Yang di maksud dengan Metode demonstrasi ialah suatu upaya atau praktek dengan menggunakan peragaan yang di tujukan pada siswa yang tujuannya ialah agar supaya semua sisiwa lebih mudah dalam memahami materi pembelajaran.

1.2   Rumusan Masalah
Berdasar latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka masalah yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.2.1                 Apakah penggunaan Penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan aktifitas belajar siswa pada mata pelajaran Ips kelas VIII  `semester  ganjil kompetensi dasar mendeskripsikan pelaku ekonomi rumah tangga, masyarakat, perusahaan, koperasi, dan negara di MTs. Al-Amanah Kec. Besuki Kab. Situbondo
1.2.2                 Apakah penggunaan Penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ips kelas VIII  semester ganjil kompetensi dasar mendeskripsikan pelaku ekonomi rumah tangga, masyarakat, perusahaan, koperasi, dan negara di MTs. Al-Amanah Kec. Besuki Kab. Situbondo
1.3    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan  diatas maka peneliti mengambil tujuan dari penelitian ini adalah:
1.3.1                 Untuk meningkatkan  aktifitas belajar peserta didik melalui metode demonstrasi pada mata pelajaran Ips kelas VIII semester I materi pelaku ekonomi di Mts Al-amanah besuki kabupaten situbondo thn 2012/2013
1.3.2                 Untuk meningkatkan  hasil belajar peserta didik melalui penerapan metode demonstrasi pada  pelajaran Ips kelas VIII semester I materi pelaku ekonomi di Mts Al-amanah besuki kabupaten situbondo thn 2012/2013

1.4    Manfaat penelitian
1.4.1  Bagi guru
1.4.1.1   Bahwa penggunaan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran dapat mempermudah menerangkan materi pelajaran.
1.4.1.2   Dengan menggunakan metode demonstrasi dapat memperbaiki metode belajar mengajar guna meningkatkan prestasi siswa.

1.4.2  Bagi Siswa
1.4.2.1   Dengan metode demonstrasi, siswa dapat secara mudah memahami materi pembelajaran
1.4.2.2   Dengan metode demonstrasi, diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

1.4.3  Bagi Sekolah
Dapat memeberikan sumbangsih pemikiran bagi penentu kebijakan atau kepala sekolah agar mensosialisasikan metode pembelajaran yang sesuai dengan pokok bahasan dalam upaya peningkatan dan mengoptimalkan prestasi belajar, dan dapat menaikan citra sekolah.

1.5  Batasan Istilah
Peneltian merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan, maka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan untuk menyamakan persepsi peneliti dengan pembaca, maka perlu dirumuskan batasan istilah. Dalam penelitian ini adalah :
a.    Model pembelajaran
Model pemebelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu  pola yang digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran atau pembelajaran tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran.
b.   Metode Demonstrasi
Metode Demonstrasi ialah suatu upaya atau praktek dengan menggunakan peragaan yang di tujukan pada siswa yang tujuannya ialah agar supaya semua sisiwa lebih mudah dalam memahami materi pembelajaran.

c.    Aktifiats belajar
Aktifitas belajar adalah segla tindakan yang dilakukan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.

d.   Hasil Belajar
Hasil belajar adalah angka penilaian hasil kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk symbol, angka, huruf atau kalimat yang mencerminkan hasil yang sudah di capai peserta didik dalam periode tertentu.






BAB II
KAJIAN PUSTAKA
                                      
2.1 Kajian Teoritis
2.1.1 Hakikat Belajar dan Pembelajaran
            Belajar merupakan kegiatan setiap orang, seseorang dikatakan belajar apabila terjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan perubahan tingkah laku. Kegiatan untuk mencapai tingkah laku merupakan hasil belajar. Perubahan tingkah laku itu terjadi dalam waktu relatif lama. Kegiatan dan usaha untuk menncapai perubahan tingkah laku merupakan hasil belajar.
            Belajar prinsipnya adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari ineraksi antara peserta didik dengan sumber-sumber atau objek belajar baik secara disengaja dirancang atau tanpa disengaja dirancang (Sulaina, 2005). Kegitan belajar tersebut dapat dialami oleh  orang yang sedang belajar dan dapat diamati oleh orang lain. Belajar yang dialami oleh peserta didik ada hubungannya dengan usaha pembelajran yang dilakukan oleh guru. Pada satu sisi belajar yang dialami oleh peserta didik terkait dengan pertumbuhan jasmani yang siap berkembang. Pada sisi lain, kegiatan belajar yang berupa perkembangan mental juga didorong oleh tindakan pembelajaran. Dari segi peserta didik, belajar yang dialaminya sesuai dengan perkembangan jasmani dan perkembangan mental akan menghasilkan hasil belajar. Dari segi guru, kegiatan belajar peserta didik merupakan akibat dari tindakan pembelajaran. Proses belajar peserta didik tersebut menghasilkan perilaku yang dikehendaki, suatu hasil belajar sebagai dampak pengajaran. (Dimyati dan Midjiono, 2002).
            Pembelajaran adalah sutu kegiatan dimana guru menyampaikan pengetahuan dan pengalaman kepada peserta didik. Dengan tujuan agar pengetahuan yang disampaikan dapat dipahami oleh peserta didik, sehingga mengajar dapat dikatakan baik apabila hasil belajar peserta didik juga baik. Apabila terjadi proses belajar mengajar yang baik, maka dapat diharapkan bahwa hasil belajar peserta didik akan baik. Dengan demikian peserta didik sebagai subyek dapat memahami materi yang diajarkan dan mampu mengapliasikan pada situasi yang baru, seperti dalam masalah kehidupan sehari-hari.
            Pembelajaran berhubungan dengan belajar mengajar. Proses tersebut terjadi secara bersamaan dan tidak dapat dipisahkan. Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu sisitem atau suatu proses membelajarkan subyek didik/pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan dan dievaluasi secara sisitematis agar subyek didik / pembelajar dapat mempunyai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002 : 157) pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan peserta didik, bagaimana memperoleh dan memproses pengatahuan, keterampilan dan sikap. Sedangkan Setyosari ( 2001 : 31) mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu uasaha manusia yang dilakukan dengan tujuan untuk membantu memfasilitasi belajar orang lain. Proses pembelajaran terjadi apabila ada interksi antara guru dengan peserta didik dan peserta didik dengan  peserta didik lainnya. Dengan melakukan pembelajaran siswa diharapkan dapat mengalami perubahan tingkah laku, menambah pengetahuan dan berfikir kritis.
            Pengetahuan social merupakan seperangkat fakta, peristiwa, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan perilaku dan tindakan manusia untuk membangun dirinya, masyarakat, bangsa dan lingkungannya berdasarkan pengalaman masa lalu yang dapat dimaknai untuk masa kini dan diantisipasi untuk masa yang akan datang, (Depdiknas, 2004 : 1). Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), tujuan utama ilmu pengatahuan social adalah untuk mengembangkan peserta didik agar peka terhadap masalah social yang terjadi dimasyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap segala ketimpangan yang terjadi dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi yang menimpa dirinya maupun yang menimpa masyarakat. Ekonomi merupakan cabang dari ilmu pengatahuan social, tentu cakupan materi tidak lepas dari fenomena yang terjadi dimasyarakat. Dapat dikatakan bahwa pelajran ekonomi selalu mengikuti perkembangan yang terjadi dimasyarakat.                       
                                               

2.1.2 Metode Pembelajaran
            Metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan. Berdasarkan definisi / pengertian metode pembelajaran yang dikemukakan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan suatu cara atau strategi yang dilakukan oleh seorang guru agar terjadi proses belajar pada diri siswa untuk mencapai tujuan.            Benny A. Pribadi (2009: 11) menyatakan, “tujuan proses pembelajaran adalah agar siswa dapat mencapai kompetensi seperti yang diharapkan. Untuk mencapai tujuan proses pembelajaran perlu dirancang secara sistematik dan sistemik”.
            Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan metode pembelajaran adalah cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan. Fungsi metode pembelajaran menurrut Darwin syah (2007: 134), metode mengajar dapat menciptakan terjadinya interaksi belajar mengajar yang baik, efektif dsan efisien. Karena dengan pemilihan metode mengajar yang baik dan tepat guna tepat sasaran akan semakin menciptakan interaksi edukatif yang semakin baik pula.
2.1.3 Metode Demontrasi
Istilah demonstrasi dalam pengajaran dipakai untuk menggambarkan suatu cara mengajar yang pada umumnya penjelasan verbal dengan suatu kerja fisik atau pengoperasioan peralatan barang atau benda. Kerja fisik itu telah dilakukan atau peralatan itu telah dicoba lebih dahulu sebelum didemonstrasikan. Orang yang mendemontrasikan (guru, peserta didik, atau orang luar) mempertunjukkan sambil menjelaskan tentang sesuatu yang didemonstrasikan (Ramayulis, 244:2004).




Adapun aspek yang penting dalam menggunakan Metode Demonstrasi adalah:
1.                  Demonstrasi akan menjadi metode yang tidak wajar apabila alat yang di Demonstrasikan tidak bisa di amati dengan seksama oleh siswa. Misalnya alatnya terlalu kecil atau penjelasannya tidak jelas.
2.                  Demonstrasi menjadi kurang efektif bila tidak di ikuti oleh aktivitas di mana siswa sendiri dapat ikut memperhatikan dan menjadi aktivitas mereka sebagai pengalaman yang berharga.
3.                  Tidak semua hal dapat di Demonstrasikan di kelas karna sebab alat-alat yang terlalu besar atau yang berada di tempat lain yang tempatnya jauh dari kelas.
4.                  Hendaknya dilakukan dalam hal-hal yang bersifat praktis.
Ada beberapa kelebihan dan kelemahan dalam penerapan metode demontrasi, diantaranya adalah:
a.      Kelebihan
Ø  Perhatian anak didik dapat di pusatkan, dan titik berat yang di anggap penting oleh guru dapat di amati
Ø  Perhatian anak didik akan lebih terpusat pada apa yang di Demonstrasikan, jadi proses anak didik akan lebih terarah dan akan mengurangi perhatian anak didik kepada masalah lain
Ø  Dapat merangsang siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti proses belajar
Ø  Dapat menambah pengalaman anak didik
Ø  Bisa membantu siswa ingat lebih lama tentang materi yang di sampaikan
Ø  Dapat mengurangi kesalah pahaman karna pengajaran lebih jelas dan kongkrit
Ø  Dapat menjawab semua masalah yang timbul di dalam pikiran setiap siswa karna ikut serta berperan secara langsung.                                                                                                                 
b.      Kelemahan
Ø  Memerlukan waktu yang cukup banyak
Ø  Apabila terjadi kekurangan media, metode demonstrasi menjadi kurang efesien
Ø  Memerlukan biaya yang cukup mahal, terutama untuk membeli bahan-bahannya
Ø  Memerlukan tenaga yang tidak sedikit
Ø  Apabila siswa tidak aktif maka metode demonstran menjadi tidak efektif.
Tabel  Sintak metode pembelajaran Demontrasi
Tahapan-tahapan
Perilaku guru
Tahap 1
Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar.
Tahap 2
Mendemonstrasikan keterampilann

Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap.
Tahap 3
Membimbing pelatihan

Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan.
Tahap 4
Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik

Guru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik
Tahap 5
Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan

Guru mempersiapkan kesempatan untuk melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari


2.1.4 Aktifitas belajar
Aktifitas belajar adalah sebuah aktifitas peserta didik dalam proses belajar, mulai dari kegiatan fisik sampai kegiatan psikis. “pada prinsipnya belajar adalah berbuat, tidak ada belajar jika tidak ada aktifitas, itulah mengapa aktifitas merupakan prinsip yang sangat penting dalam interaksi belajar mengajar” (Sadirman, 2001 : 93).
Banyak macam-macam kegiatan (aktifitas belajar) yang dapat dilakukan oleh peserta didik dalam belajar. Paul B. Diedrich (dalam Nasution, 2004 : 9) membuat suatu daftar macam-macam kegiatan (aktifitas peserta didik), antara lain:
a.                   Visual activities, yang termasuk didalamnya misalnya, membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
b.                  Oral activities, seperti : menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
c.                   Listening activities, sebagai contoh, mendengarkan : uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
d.                  Writing activities, seperti misalnya : menulis cerita, karangan, laporan angket, menyalin.
e.                   Drawing activities, misalnya: menggambar, membuat garfik, peta, diagram.
f.                   Motor activities, yang termasuk didalamnya antara lain : melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
g.                  Mental activities, sebagai contoh misalnya, menangkap, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
h.                  Emotional activities, seperti misalnya, menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
Merujuk dari uraian diatas maka, dalam pembelajaran metode demontrasi ini akan muncul aktivitas antara lain :
1.               Visual activities, seperti : membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain yang berhubungan dengan materi;
2.               Oral activities, seperti : bertanya / mengemukakan pendapat yang berhubungan dengan materi;
3.               Mental activities, seperti : menyelesaikan masalah atau pertanyaan-pertanyaan yang dijumpai dalam model pembelajaran tersebut.

2.1.5 Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh individu setelah proses belajar berlangsung, yang dapat memberikan perubahan tingkah laku baik pengetahuan, pemahaman, sikap dan keterampilan peserta didik sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sebagaimana dikemukakan Hamalik
(1995 : 48) hasil belajar adalah perubahan tingkah laku subyek yang meliputi kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor dalam situasi tertentu berkat pengalamannya berulang-ulang. Pendapat tersebut didukung oleh Sudjana (2005 : 3) “hasil belajar ialah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotor yang dimiliki peserta didik setelah menerima pengalaman belajarnya”.
Kurikulum sebagai hasil belajar. Popham dan Baker mendefinisikan kurikulum sebagai “all planned learning outcomes for which the school its responsible” (Tanner dan Tanner, 1980 : 24). Secara jelas diutarakan oleh Popham dan Banker bahwa semua rencana hasil belajar (learning outcomes) yang menjadi tanggung jawab sekolah adalah kurikulum.adanya definisi ini mengubah pandangan penanggung jawab sekolah dari kurikulum sebagai alat menjadi kurikulum sebagai tujuan. Tanner dan Tanner (1980 : 43) memendang kurikulum sebagai rekonstruksi pengetahuan dan pengalaman, yang secara sisitematis dikembangkan dengan bantuan sekolah, agar memungkinkan siswa menambah pengetahuan dan pengalamannya. Dengan demikian, kurikulum sebagai hasil belajar merupakan serangkaian hasil belajar yang diharapkan. Namun demikian bukan berarti dalam kurukulum tidak diorganisasikan cara-cara sistematis untuk mewujudkan hasil belajar yang diharapkan. 
Menurut Sudjana (2005 : 22-23) yang mengutip pendapat Bloom  bahwa hasil belajar yang hendak di capai  digolongkan menjadi 3 ranah yaitu ranah kognitif, afektif, psikomotorik. Sesuai dengan pokok bahasan dalam penelitian ini, hanya ada dua ranah yang tampak sebagai hasil belajar yaitu ranah kognitif. dan ranah afektif Hasil belajar dari Bloom adalah sebagai berikut :
a. Ranah Kognitif
Hasil belajar yang berkenaan dengan ranah kognitif adalah hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek menurut Bloom (dalam Suciati, 2006) yaitu :
1. Pengetahuan hafalan ; pengetahuan yang sifatnya faktual dan hal-hal yang perlu diingat serta kemampuan terminal (jembatan) untuk menguasai tipe hasil belajar lainnya.
2. Pemahaman ; kemampuan menangkap makna (arti dari suatu konsep) sehingga diperlukam hubungan / pertautan antara konsep dengan makna yang ada dalam konsep tersebut.
3. Aplikasi ; kesanggupan penerapan dan mengabtraksi suatu konsep, ide, rumus, hukum dan situasi yang baru dan lebih banyak keterampilan mental.
4. Analisis ; kesanggupan memecah, mengurai suatu integritas (kesatuan) yang utuh menjadi unsur-unsur / bagian-bagian yang mempunyai arti atau mempunyai tingkatan / hierarki.
5. Evaluasi ; kesanggupan memberikan keputusan tentang nilai sesuatu berdasrkan judgment yang milikinya dan kriteria yang dipakainya.
6. Kreasi ; kemampuan untuk menciptakan sesuatu. Kemampuan ini muncul karena siswa sudah memiliki kemampuan evaluasi. Jadi kreasi merupakan tindakan nyata dari evaluasi.
            Hasil belajar yang dijadikan penilaian pada ranah kognitif dalam penelitian ini adalah pemahaman dan pengetahuan terhadap materi pembelajaran IPS yang diperoleh dari tes kegiatan belajar mengajar.




b. Ranah Afektif
       Bidang afektif menurut Krathwohl (dalam suciati, 2006) berkenaan dengan sikap dan nilai yang tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku atensil perhatian terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar dan lain-lain.
       Adapun tingkatan bidang afektif sebagai tujuan dan tipe hasil belajar antara lain :
1. Receiving ; kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulasi) dari luar yang datang kepada siswa, baik dalam bentuk masalah situasi dan gejala.
2. responding ; reaksi yang diberikan seseorang terhadap stimulasi yang datang dari luar.
3. Valuing ; berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala dan stimulasi tersebut.
4. Organisasi ; pengembangan nilai ke suatu system organisasi termasuk konsep nilai dan system nilai.
5. Karakteristik nilai ; keterpaduan dari semua system nilai yang dimiliki seseorang yang mempengaruhi pada kepribadian dan tingkah lakunya.
       Hasil yang dijadikan penilaian pada ranah afektif adalah hasrat keingintahuan, partisipasi peserta didik dalam mengerjakan soal, rasa senang dan perhatian peserta didik pada pelajaran. Dari data yang saya peroleh diketahui hasil belajar siswa di Mts Al-amanah kelas VIII A dari data 27 siswa hanya ada  3 siswa yang  tuntas.
       Dari hasil pembelajaran, dapat diketahui hasil belajar. Ketuntasan hasil belajar adalah pencapaian taraf penguasaan minimal yang ditetapkan setiap unit bahan ajar, baik secara perorangan maupun secara klasikal.
Adapun keteria dari ketuntasan hasil belajar adalah sebagai berikut :
1. Daya serap perorangan, seorang peserta didik dikatakan tuntas dalam belajar apabila setelah mencapai skor tes dari skor tes > 70 dari skor maksimal 100;
2. Daya serap klasikal, suatu kelas dikatakan tuntas jika terdapat minimal 75% peserta didik yang tuntas


2.2  Kajian Empiris
            Kajian empiris adalah berupa telaah terhadap hasil penelitian sebelumnya yang relevan, baik hasil penelitian tersebut telah disajikan pada suatu jurnal atau masih berbentuk buku. Kajian empiris dilakukan untuk memperkuat hasil kajin teoritis
            Hasil penelitian tindakan kelas dilaksanakan oleh: Maharani di SDN setialaksana 3 dengan judul skripsi ‘’ Penggunaan Metode Demonstran Pada Pembelajaran Matematika’’ penelitian pada siklus I menunjukan bahwa nilai rata-rata kelas adalah 60 dari 32 siswa sedangkan pada siklus II menunjukan rata-rata kelas adalah 70 dari 32 siswa. Dengan rincian 7 siswa memperoleh nilai di atas rata-rata, 17 siswa mendapatkan nilai cukup, sedangkan 8 siswa mendapatkan nilai dibawah rata-rata.  
Hasil penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh: Lukman Zain di kelas IV SDN Sukasari I Rajeg Tangerang dengan judul skripsi ‘’ Penerapan metode demontrasi ‘’  Berdasarkan hasil penelitian tahap siklus 2 pada tabel di atas, dideskripsikan sebagai berikut : kemampuan guru dalam membuka pelajaran, mengeksplorasi, pengenalan shalat, dan menutup pelajaran sudah berjalan dengan biak hanya perlu adanya peningkatan dalam mengaplikasikan shalat sehingga secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan demonstrasi telah dikuasai dan dilaksanakan dengan baik hal ini terlihat dari nilai rata-ratanya sebesar 3.80.
Adapun nilai rat-rata hasil post tes dari proses pembelajaran tersebut hanya mencapai 7.79 degan tingkat ketuntasan belajar sebesar 86%. Hal tersebut mengidentifikasikan bahwa siswa sudah bisa mencapai tujuan dari pembelajaran
                             
 
2.3 Kerangka Konseptual
           
Pembelajaran IPS
Guru
Aktifitas
KKM
Metode demontrasi
Peserta didik

            Pembelajara adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan peserta didik, bagaimana memperoleh dan memproses pengetahuan , keterampilan dan sikap. Pembelajaran berhubungan dengan belajar dan mengajar, proses tersebut terjadi secara bersamaan dan tidak dapat dipisahkan. Pada pembelajaran ips, Metode pembelajran demontrasi ini diterapkan dimana antara guru dan peserta didik saling berinteraksi. Pada Metode pembelajran demontrasi ini sesungguhnya untuk membina kemampuan peserta didik dalam berkolaborasi untuk mencapai kemampuan akademis sesuai dengan materi yang dikuasai. Peranan guru dalam pembelajaran ini sangatlah dibutuhkan untuk menyampaikan materi pada peserta didik, menyuruh peserta didik mendemontrasikan materi yang sedang di ajarkan, melihat aktifitas peserta didik dalam mendemonstrasikan materi dan memberikan evaluasi/ tes pada peserta didik. Pada peserta didik dalam pembelajaran ini adalah dengan mendemonstrasikan materi setelah itu peserta didik menjelaskan hasil dari mendemonstrasikan materi.
            Hasil belajar peserta didik pada dua ranah yaitu 1) Ranah kognitif yang berhubungan dengan ingatan atau pengenalan terhadap pengetahuan dan informasi, serta mengembangkan keterampilan intelektual (Jarolimek dan Foster, 1981: 148). 2) Ranah afektif yang berhubungan dengan hierarki perhatian, sikap, penghargaan, nilai, perasaan dan emosi (Davies, 1986 : 97 ; Jarolimek dan Foster 1981 : 148). Dari hasil belajar dapat diketahui ketuntasan hasil belajar. Adapun kriteria dari ketuntasan hasil belajar adalah sebagai berikut :
1. Daya serap perorangan, seorang peserta didik dikatakan tuntas dalam belajar apabila setelah mencapai skor tes (KKM) dari skor tes maksimal 100;
2. Daya serap klasikal, suatu kelas ditentukan telah tuntas dalm pelajaran apabila dikelas tersebut telah terdapat minimal 85 % telah mencapai skor tes (KKM) dari skor minimal 100

2.4 Hipotesis Tindakan
            Sesuai dengan kajian teori, maka dalam penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut :
1. Penerapan Metode demontrasi pada kompetensi dasar mendeskripsikan pelaku ekonomi rumah tangga, masyarakat,perusahaan, koperasi dan negara dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar peserta didik di MTs. Al-Amanah.



BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Reseach), yaitu penelitian dengan upaya menguji cobakan ide-ide ke dalam praktek untuk memperbaiki atau merubah sesuatu agar memperoleh dampak nyata dari situasi. Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian reflektif diri yang secara kolektif dilakukan peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktek pendidikan dan sosial mereka, serta pemahaman mereka mengenai praktek ini dan terhadap situasi tempat dilakukan praktek-praktek ini.
Penelitian tindakan merupakan intervensi skala kecil terhadap tindakan didunia nyata dan pemeriksaan cermat terhadap pengaruh intervensi tersebut. Penelitian tindakan merupakan kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualiatas kegiatan yang ada di dalamnya. Seluruh prosesnya, yang meliputi telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan dampak, menjalin hubungan yang diperlakuan antar evaluasi diri dan perkembangan profesional.
Fungsi dari penelitian tindakan mempunyai lima kategori fungsi, yaitu:
1.        Untuk memecahkan masalah yang didiagnosis dalam situasi tertentu
2.        Alat pelatihan dalam jabatan untuk membekali guru dengan ketrampilan dan metode baru, mempertajam analisis dan mempertinggi kesadaran dirinya
3.        Untuk mengenalkan pendekatan tambahan atau inovasi dalam pembelajaran
4.        Untuk meningkatkan komunikasi yang kurang lancar antara guru dan peneliti
5.        Untuk menyediakan alternatif yang lebih baik
Dari lima kategori di atas, kalau direduksi fungsi penelitian tindakan tersebut sebenarnya sebagai alat untuk meningkatkan kualitas, dan efisiensi pelaksanaan kegiatan pendidikan.
Selanjutnya Cohen dan Manion, (1980) menyatakan bahwa bidang garapan penelitian meliputi (1) metode mengajar (2) strategi belajar (3) prosedur evaluasi (4) perubahan sikap dan nilai (5) pengembangan jabatan guru (6) pengelolahan dan pengendalian, dan (7) administrasi.
Bidang garapan penelitian lainnya yang juga perlu mendapat perhatian adalah (1) media pembelajaran, baik cetak maupun non cetak, elektronik dan non elektronik (2) lingkungan belajar (setting), (3) materi pembelajaran, (4) kurikulum dan (5) model-model pembelajaran
Langkah-langkah secara prosedur penelitian tindakan meliputi 8 tahap,
1.        Tahap I : identifikasi – evaluasi – formulasi masalah yang dipandang kritis dalam situasi mengajar sehari-hari
2.        Tahap II : diskusi pendahuluan dan perundingan diantara kelompok yang berminat/terlibat: guru, peneliti, penasihat, sponsor, yang berakhir dengan suatu draft usula dan persoalan-persoalan yang perlu dijawab
3.        Tahap III : kajian pustaka, jurnal penelitian yang relevan dalam hal sasaran, prosedur dan masalahnya.
4.        Tahap IV : Modifiksi atau redifinisi rumusan awal masalahnya. Mungkin muncul hipotesis yang dapta diuji.
5.        Tahap V :  Pemilihan prosedur penelitian, penetapan smapel, adminidtrasi penelitian dan tindakannya, pemilihan bahan, metode belajar mengajar, alokasi sumber dan tenaga.
6.        Tahap VI : pemilihan prosedur evaluasi dan melaksanakan prinsip kontinyuitas dan menetapkan sasaran evaluasinya.
7.        Tahap VII : Melaksanakan proyek penelitian tindakan.
8.        Tahap VIII : Pemakaian data, penarikan inferensi dan penilaian seluruh proyek penelitian. Diskusi penemuannya berdasarkan kriteria yang telah disetujui.
Penelitian ini direncanakan menggunakan dua siklus tindakan. Setiap siklus tindakan dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai seperti yang di uraikan dalam faktor yang ingin diteliti. Setiap siklus tindakan terdiri dari satu sub materi yang dibelajarkan dengan satu siklus belajar. Apabila hasil yang diinginkan belum tuntas maka di adakan siklus berikutnya dengan materi pelajaran selanjutnya.
Untuk MTs. Al- Amanah kelas VIII A Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)yang digunakan pada mata pelajaran IPS adalah sebagai berikut :
1.                  Daya serap individual, yaitu siswa dikatakan tuntas secara individual jika mendapat skor  70 dari skor maksimal 100.
2.                  Daya serap klasikal, yaitu suatu kelas dikatakan tuntas jika terdapat minimal 75% siswa yang telah tuntas.
perencanaan



refleksi
tindakan


observasi

Bagan model PTK yang dikembangkan oleh Kurt Lewin dalam Sanjaya,Wina (2009 : 50)
Prosedur Penelitian
Sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya, bahwa penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas. Dalam penelitian ini direncanakan akan dilakukan 2 siklus, dengan 2 kali pertemuan ( tiap pertemuan2x40’). Materi pelajaran yang digunakan dalam pelaksanaan tindakan ini adalah pokok bahasan Mendeskripsikan Pelaku Ekonomi Rumah tangga, masyarakar, perusahaan, Koperasi dan Negara.
Dari desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) diatas, maka langkah-langkah pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.    Tindakan pendahuluan
1)   Meminta izin penelitian kepada kepala MTs.
2)   Wawancara dengan guru ips terpadu dengan tujuan untuk mengetahui model pembelajaran apa yang pernah diterapkan dikelas tersebut, dan untuk mengetahui apakah metode demontrasi pernah diterapkan dalam kelas tersebut.
3)   Mengkonfirmasikan waktu penelitian dengan guru ips terpadu
4)   Meminta daftar nama dan daftar nilai siswa

b.   Pelaksanaan siklus
1)   Tahap perencanaan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan meliputi :
a)    Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode demontrasi
b)   Menyiapkan perangkat pembelajaran dan segala sesuatu yang dibutuhkan selama proses pembelajaran
c)    Menyiapkan materi pembelajaran yang akan didemontrasikan
d)   Menyusun soal/tes individual pada akhir kegiatan pemblajaran

2)   Tahap pelaksanaan tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan, untuk kegiatan awal yang dilakukan guru adalah menjelaskan tujuan pembelajaran dan model pembelajaran yang akan digunakan dan melihat pengetahuan dan pemahaman siswa tentang materi. Kegiatan selanjutnya adalah sebagai berikut :
a.    Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar.
b.    Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap.
c.    Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan.
d.   Guru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik.
e.    Guru mempersiapkan kesempatan untuk melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari

3)   Observasi
Observasi dilakukan dengan tujuan agar memperoleh informasi lebih mendalam dan komprehenship tentang data aktifitas dan suasana pembelajaran mulai dari awal sampai akhir tindakan. Data dari hasil observasi tersebut digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan dan kelebihan-kelebihan pelaksanaan tindakan, yang akan digunakan untuk acuan berikutnya. Observasi ini dilakukan oleh peneliti dan guru, hasil observasi di catat dalam lembar observasi dan catatan lapangan.
4)   Refleksi
Setelah menyelesaikan siklus I peneliti bersama guru bidang studi melakukan diskusi untuk membahas hasil observasi terhadap pelaksanaan tindakan. Dari hasil observasi dan diskusi tersebut, selanjutnya dijadikan sebagai bahan refleksi dalam rangka memperbaiki tindakan pada siklus II.

5)                  Instrumen Penelitian
Lembar Observasi
1.      Aktivitas siswa
No
Nama
Pengajuan pertanyaan
Menjawab pertanyaan
jumlah
Ketercapaian %
Aktif
Tidak
1
2
3

1
2
3

1













2













3













4













5













dst














Jumlah skor











Skor tercapai








Skor maksimal








Ketercapaian %










Kriteria aktivitas siswa
-          Bertanya/mengemukakan pendapat
1  : Siswa tidak pernah bertanya/mengemukakan pendapat sekali
2  : Siswa bertanya/mengemukakan pendapat dua kali
3  : Siswa bertanya/mengemukakan pendapat tiga kali
-          Menjawab pertanyaan
1  : Siswa menjawab 1 pertanyaan dengan benar
2    : Siswa mampu menjawab 2 pertanyaan dengan benar
3  : Siswa mampu menjawab 3 pertanyaan dengan benar

3.2 Subyek dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII A, tahun ajaran 2011-2012 bertempat di MTs. Al-Amanah.
Waktu pelaksanaan penelitian pada semester ganjil tahun ajaran 2011-2012 yaitu bulan Oktober-Nopember dan disesuaikan dengan jam pelajaran IPS kelas VIII A yang digunakan sebagai tempat penelitian.
3.3 Tehnik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah suatu cara yang dilakukan untuk memperoleh data didalam penelitian, metode dan alat pengumpulan data mempunyai peranan yang sangat penting dalam penelitian.
Metode yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode observasi, metode interview, metode tes dan metode dokumentasi.
a.    Metode observasi
Observasi merupakan cara pengumpulan data dengan jalan mengadakan pengamatan dan pencatatan terhadap gejala-gejala fakta. Sifat-sifat dari obyek yang diselidiki baik secara langsung maupun tidak langsung dalam hal ini pengertian observasi menurut Sutrisno Hadi, observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang di selidiki.
Observasi dilakukan terhadap seluruh siswa, dengan penilaian secara menyeluruh yang meliputi segala aktifitas siswa selama pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan oleh peneliti, dan data observasi dicatat dalam lembar pengamatan aktifitas belajar siswa, meliputi bertanya / mengemukakan pendapat, menyelesaikan masalah atau pertanyaan-pertanyaan yang dijumpai dalam model pembelajaran tersebut. Instrumen ini digunakan untuk mengetahui aktifitas yang dilakukan oleh siswa yang menjadi subyek penelitian sebagai fokus pengamatan selama berlangsungnya pembelajaran.
b.    Metode tes
Metode tes digunakan untuk memperoleh data hasil belajar dengan menggunakan pertanyaan atau seperangkat tugas yang harus dikerjakan siswa atau sekelompok siswa sehingga dapat menghasilkan tentang skor atau nilai dari prestasi belajar yang mereka capai. Menurut jenisnya, tes dibagi menjadi dua macam yaitu, tes uraian dan tes obyektif.
     Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes uraian, karena tes dalam bentuk ini dapat memunculkan kreatifitas siswa dalam berpikir dan menyusun jawaban yang sesuai dengan pendapat dan pikiran mereka. tes uraian adalah butiran soal yang mengandung pertanyaan atau tugas soal  dan cara  jawabannya harus dilakukan dengan cara mengekspresikan pikiran siswa secara naratif.
c.    Metode dokumenter
Metode dokumenter adalah metode pengumpulan data dengan cara mencari data ayang sudah di catat atau dipublikasikan dalam beberapa dokumen yang ada, seperti dalam buku induk, buku pribadi, dan surat keterangan.Dengan demikian dikatakan bahwa metode dokumenter adalah metode untuk mengumpulkan data melalui pencatatan buku yang telah di dokumentasikan.
Metode dokumentasi dalam penelitian ini dipergunakan untuk memperoleh data tentang:
1.      Denah MTs. Al-Amanah Besuki Situbondo
2.      Nama dan jumlah siswa MTs. Al-Amanah khususnya kelas VIII A
3.      Nama dan jumlah guru MTs.Al-Amanah
4.      Nama dan jumlah tenaga administrasi Mts. Al-Amanah
5.      Prestasi belajar mata pelajaran Ips kelas VIII A MTs. Al-Amanah
3.4 Tehnik analisis Data
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa deskriptif kualitatif, dengan memaparkan data tentang aktivitas siswa dan ketuntasan belajar siswa. Yang diperoleh dari hasil pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode demontrasi yang terjadi dalam siklus keseluruhan.
Adapun analisis data yang dihasilkan adalah sebagai berikut :
a.    Aktivitas siswa
Aktivitas siswa selama pembelajaran dengan menggunakan metode demontrasi dapat dianalisis dengan menggunakan rumus :

P1 =  x 100%
            P1 = Presentase keaktifan siswa
            m  = Skor yang di capai siswa
            M  = Skor maksimal
Tabel  Kriteria aktivitas siswa
Prosentase
Kategori
P1 %
Sangat baik
80%  P1  90%
Baik
60% P1  80%
Cukup baik
50%  P1  60%
Kurang baik
P1 50%
Sangat kurang
(Depdiknas dalam Yanti 2008 : 32)

b.    Ketuntasan belajar
Ketuntasan belajar siswa yang dapat dilihat dari peroleha skor siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan metode demontrasi. Prosentase ketuntasan dapat dihitung dengan rumus :
P = x 100%
P= presentase ketuntasan siswa
n= jumlah siswa yang tuntas
N= jumlah seluruh siswa
Tabel Kriteria  keberhasilan siswa
Hasil belajar siswa
Kategori
85-100
72-84
60-70
40-59
 39
Sangat baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat kurang
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1    Penyajian Data
4.1.1 Sebelum Penelitian
1)         Tindakan penelitian
a)         Perencanaan Tindakan ( 05 Nopember 2012)
Pengamatan observasi awal pada awal bulan Nopember dilaksanakan terhadap pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Wawancara dengan guru bidang studi .
Hal ini dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kondisi kelas selama proses pembelajaran. Observasi dilakukan peneliti yaitu mencatat model pembelajaran yang digunakan oleh guru dan aktivitas peserta didik disaat pembelajaran. Dari hasil observasi awal tentang kegiatan pembelajaran dan hasil wawancara dengan guru bidang studi, dapat diketahui bahwa metode yang sering dipakai adalah ceramah dan diskusi kelompok biasa.
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan meliputi :
a)    Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode demontrasi
b)   Menyiapkan perangkat pembelajaran dan segala sesuatu yang dibutuhkan selama proses pembelajaran
c)    Menyiapkan materi pembelajaran yang akan didemontrasikan
d)   Menyusun soal/tes individual pada akhir kegiatan pemblajaran

2)         Pelaksanaan ( 08 Nopember 2012)
Pelaksanaan penelitian dimulai dengan observasi untuk mengetahui aktivitas belajar sebelum dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode demontrasi, untuk kegiatan awal yang dilakukan guru adalah menjelaskan tujuan pembelajaran dan model pembelajaran yang akan digunakan dan melihat pengetahuan dan pemahaman siswa tentang materi. Kegiatan selanjutnya adalah sebagai berikut :
a.    Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar.
b.    Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap.
c.    Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan.
d.   Guru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik.
e.    Guru mempersiapkan kesempatan untuk melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari

3)         Observasi atau Pengamatan ( 08 Nopember 2012)
Observasi untuk mengetahui aktivitas belajar peserta didik selama KBM (sebelum pembelajaran dengan menggunakan metode demontrasi ) adalah dengan meminta bantuan kepada dua orang observer di MTs. Al-Amanah kepada peserta didik kelas VIII A yang berjumlah 27 peserta didik, yang bertujuan untuk meninjau aktivitas peserta didik setelah penerapan pembelajaran dengan menggunakan metode demontrasi. Adapun elemen aktivitas yang di amati meliputi:
1)         Mengajukan pertanyaan, 2) melbatkan diri dalam kelompok 3) diskusi, dan 4) menjawab pertanyaan. Aktivitas belajar peserta didik dalam pembelajaran sebelum menggunakan metode demontrasi.
Berdasarkan hasil analisis, maka dapat di uraikan sebagai berikut:
1.      Elemen bertanya/mengajukan pendapat
Pada elemen bertanya/mengajukan pendapat, elemen ini mempunyai 3 indikator yaitu peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat sekali, peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat dua kali dan peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat 3 kali. Hasil analisis observasi belajar peserta didik pada indikator peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat sekali diperoleh 15 skor. pada indikator peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat dua kali tampak ada 16 skor, dan pada indikator peserta didik yang bertanya/mengemukakan pendapat 3 kali tampak ada 12 skor. Jadi prosentase pada elemen ini hanya terdapat 53%.
2.      Elemen menjawab pertanyaan
Pada elemen aktivitas menjawab pertanyaan, elemen ini mempunyai 3 indikator yaitu, peserta didik menjawab pertanyaan dengan benar, peserta didik mampu menjawab 2 pertanyaan dengan benar dan peserta didik mampu menjawab 3 pertanyaan dengan benar. Hasil analisis aktivitas diketahui pada indikator peserta didik menjawab pertanyaan dengan benar terdapat 17 skor, pada indikator peserta didik mampu menjawab 2 pertanyaan dengan benar terdapat 8 skor dan pada indikator peserta didik mampu menjawab 3 pertanyaan dengan benar terdapat 18 skor. Prosentase pada elemen ini adalah 53%.
4.1.1.1  Aktivitas Peserta Didik
Observasi untuk mengetahui aktivitas belajar peserta didik selama KBM (sebelum pembelajaran dengan menggunakan metode demontrasi ) adalah dengan meminta bantuan kepada dua orang observer di MTs. Al-Amanah kepada peserta didik kelas VIII A yang berjumlah 27 peserta didik, yang bertujuan untuk meninjau aktivitas peserta didik setelah penerapan pembelajaran dengan menggunakan metode demontrasi. Adapun elemen aktivitas yang di amati meliputi:
2)         Mengajukan pertanyaan, 2) menjawab pertanyaan. Aktivitas belajar peserta didik dalam pembelajaran sebelum menggunakan metode demontrasi . Adapun hasil dari aktivitas peserta didik dapat dilihat pada tabel dibawah ini  :
Tabel I Aktivitas belajar peserta didik sebelum proses pembelajaran dengan menggunakan metode demontrasi .

Elemen aktivitas
Ketercapaian (%)
Keterangan
1.      Bertanya/ mengemukakan pendapat
53%
K
2.      Menjawab pertanyaan
53%
K
Rata-rata
53,3%
C

Keterangan :
SB       : P1 ≥ 90%
B         : 80% ≤ P1< 90%
C         : 60% ≤ P1 < 80%
K         : 50% P1 < 60%
SK       : P1 < 50%



Berdasarkan hasil analisis, maka dapat di uraikan sebagai berikut:
1.      Elemen bertanya/mengajukan pendapat
Pada elemen bertanya/mengajukan pendapat, elemen ini mempunyai 3 indikator yaitu peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat sekali, peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat dua kali dan peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat 3 kali. Hasil analisis observasi belajar peserta didik pada indikator peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat sekali diperoleh 15 skor. pada indikator peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat dua kali tampak ada 16 skor, dan pada indikator peserta didik yang bertanya/mengemukakan pendapat 3 kali tampak ada 12 skor. Jadi prosentase pada elemen ini hanya terdapat 53%.
2.      Elemen menjawab pertanyaan
Pada elemen aktivitas menjawab pertanyaan, elemen ini mempunyai 3 indikator yaitu, peserta didik menjawab pertanyaan dengan benar, peserta didik mampu menjawab 2 pertanyaan dengan benar dan peserta didik mampu menjawab 3 pertanyaan dengan benar. Hasil analisis aktivitas diketahui pada indikator peserta didik menjawab pertanyaan dengan benar terdapat 17 skor, pada indikator peserta didik mampu menjawab 2 pertanyaan dengan benar terdapat 8 skor dan pada indikator peserta didik mampu menjawab 3 pertanyaan dengan benar terdapat 18 skor. Prosentase pada elemen ini adalah 53%.

Lembar observasi aktivitas peserta didik sebelum tindakan dapat dilihat pada lampiran
Tabel VIII rekapitulasi nilai harian peserta didik sebelum tindakan

Jumlah
Skor rata-rata
Ketuntasan klasikal
1777
65
11%

Analisis belajar peserta didik sebelum tindakan dapat dilihat pada lampiran
4.1.1.2  Hasil Belajar Peserta Didik                                             
Adapun hasil belajar peserta didik dapat dilihat di tabel dibawah ini :
Tabel II rekapitulasi nilai harian peserta didik sebelum tindakan

No
Nilai
Sebelum Tindakan
Jumlah Peserta Didik
Pesrsentase ( % )
1
≥ 70
3
11,1 %
2
< 70
24
88,9 %
Jumlah
27
100 %
Dari tabel diatas maka dapat dapat diuraikan bahwa dari 27 peserta didik, terdapat 3 peserta didik yang yang tuntas dan 24 peserta didik yang tuntas dengan ketuntasan klasikal 11%.
4.1.2 Selama Penelitian
4.1.2.1  Siklus I (Pertemuan I)
            Pelaksanaan Siklus I dilaksanakan pada 13 November 2012 dengan pedoman pada rencana pembalajaran. Pembalajaran pada siklus I berlangsung selama 2 x 40 menit. Kegiatan yang dilakukan pada pembelajaran ini meliputi :
a. Kegiatan awal
1. Melakukan apersepsi dan memberikan motivasi
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran
3. Menjelaskan tata cara penerapan metode demontrasi
b. Kegiatan inti
1. Guru mendemontrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan  informasi tahap demi tahap
2. Guru merencanakan dan member bimbingan pelatihan.
3. Guru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dngan baik
4. Guru mempersiapkan kesempatan untuk melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari
c. Kegiatan akhir
1. Guru bersama peserta didik menarik kesimpulan tentang materi yang dipelajari.
2. Guru memberikan evaluasi individu.


4.1.2.2 Siklus I (Pertemuan II)
Pelaksanaan Siklus I dilaksanakan pada 19 November 2012 dengan pedoman pada rencana pembalajaran. Pembalajaran pada siklus I berlangsung selama 2 x 40 menit. Kegiatan yang dilakukan pada pembelajaran ini meliputi :
a. Kegiatan awal
1. Melakukan apersepsi dan memberikan motivasi
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran
3. Menjelaskan tata cara penerapan metode demontrasi
b. Kegiatan inti
1. Guru mendemontrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan  informasi tahap demi tahap
2. Guru merencanakan dan member bimbingan pelatihan.
3. Guru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dngan baik
4. Guru mempersiapkan kesempatan untuk melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.
c. Kegiatan akhir
1. Guru bersama peserta didik menarik kesimpulan tentang materi yang dipelajari.
2. Guru memberikan evaluasi individu.
4.1.2.3 Aktivitas Belajar Peserta Didik
            Aktivitas belajar peserta didik pada Siklus I dapat dilihat dibawah ini :
Tabel III Aktifitas belajar peserta didik selama proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi pada siklus 1

Elemen aktivitas
Ketercapaian (%)
Keterangan
1.      Bertanya/ mengemukakan pendapat
66.6%
C
2.      Menjawab pertanyaan
62,9%
C
Rata-rata
17,5%
B






Keterangan :
SB       : P1 ≥ 90%
B         : 80% ≤ P1< 90%
C         : 60% ≤ P1 < 80%
K         : 50% P1 < 60%
SK       : P1 < 50%

Berdasarkan hasil analisis, maka dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Elemen bertanya/mengemukakan pendapat
Pada elemen bertanya/mengemukakan pendapat, elemen ini mempunyai 3 indikator yaitu peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat sekali, peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat dua kali dan peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat 3 kali. Hasil analisis observasi aktivitas belajar peserta didik pada tindakan siklus 1 diketahui bahwa pada indikator peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat sekali terdapat 9 skor. Pada indikator peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat dua kali terdapat 18 skor. Sedangkan pada indikator peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat 3 kali terdapat 27 skor. Jadi aktivitas ini prosentasenya adalah 66,6%.

2.      Elemen menjawab pertanyaan
     Pada elemen aktivitas menjawab pertanyaan, elemen aktivitas ini mempunyai 3 indikator yaitu peserta didik menjawab satu pertanyaan dengan benar, peserta didik mampu menjawab dua pertanyaan dengan benar, dan peserta didik mampu menjawab tiga pertanyaan dengan benar. Hasil analisis aktivitas diketahui bahwa pada indikator peserta didik menjawab satu pertanyaan dengan benar terdapat 7 skor, pada indikator peserta didik mampu menjawab dua pertanyaan dengan benar terdapat 32 skor, sedangkan pada indikator peserta didik mampu menjawab 3 pertanyaan dengan benar terdapat 12 skor. Hasil prosentase elemen ini yaitu 62,9%.

Berdasarkan permasalahan tersebut, aktivitas belajar peserta didik dalam pembelajaran IPS dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi perlu ditingkatkan. Meskipun pada indikator-indikator  elemen aktivitas yang lain sudah ada yang mencapai 71,6%.

4.1.2.4 Hasil Belajar Peserta Didik
Dalam pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi setiap akhir siklus tindakan dilaksanakan tes individu, hal ini untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap materi yang sudah disampaikan. Dan untuk mengetahui tingkat perkembangan ketercapaian belajar peserta didik setelah menggunakan pembelajaran demontrasi. Soal tes individu berupa 5 butir soal isian.
Hasil tes individu pada tindakan siklus 1 menunjukkan bahwa dari 27 peserta didik mencapai skor 70 atau lebih, atau dapat dikatakan telah tuntas belajar. Sedangkan untuk ketuntasan  belajar peserta didik maksimal sebesar 100% seorang peserta didik dikatakan tuntas belajar apabila talah mencapai skor 70 atau lebih, suatu kelas dikatakan tuntas belajar apabila 75% peserta didik di kelas tersebut mencapai skor 70 atau lebih. Hal ini sesuai dengan Kreteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan oleh MTs al-Amanah.

Tabel IV Rekapitulasi nilai harian peserta didik pada siklus 1
No
Nilai
Siklus I
Jumlah Peserta Didik
Pesrsentase ( % )
1
≥ 70
16
59,2 %
2
< 70
11
40,8%
Jumlah
27
100 %

4.1.2.5  Refleksi tindakan I (22 Nopember 2012)
Setiap akhir siklus dilakukan refleksi tindakan yang didasarkan pada hasil observasi untuk diambil langkah-langkah perbaikan pada siklus berikutnya. Tujuannya agar terjadi proses pembelajaran yang lebih baik lagi.
Berdasarkan paparan data hasil siklus tindakan I, dapat direfleksikan bahwa aktivitas belajar peserta didik terutama indikator peserta didik tidak pernah mengajukan pertanyaan sama sekali terdapat 9 skor, yang tergolong taraf keberhasilan Cukup masih perlu ditingkatkan untuk bisa ke tingkat baik.
Permasalahan yang perlu dibenahi yaitu peserta didik belum terbiasa dengan penggunaan metode demontrasi yang menekankan peserta didik untuk belajar aktif dan kreatif dalam  mempelajari materi yang lain.
Setelah dilakukan diskusi dengan guru bidang studi dan peneliti, maka diambil rencana perbaikan tindakan untuk siklus II.

4.1.2.6  Siklus II (Pertemuan I)
Pelaksanaan Siklus II pertemuan ke I dilaksanakan pada 26 November 2012 dengan pedoman pada rencana pembalajaran. Pembalajaran pada siklus I berlangsung selama 2 x 40 menit. Kegiatan yang dilakukan pada pembelajaran ini meliputi :
a. Kegiatan awal
1. Melakukan apersepsi dan memberikan motivasi
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran
3. Menjelaskan tata cara penerapan metode pembelajaran demontrasi.
b. Kegiatan inti
1. Guru mendemontrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan  informasi tahap demi tahap
2. Guru merencanakan dan member bimbingan pelatihan.
3. Guru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dngan baik
4. Guru mempersiapkan kesempatan untuk melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari
c. Kegiatan akhir
1. Guru bersama peserta didik menarik kesimpulan tentang materi yang dipelajari.
2. Guru memberikan evaluasi individu.



4.1.2.7 Siklus II (Pertemuan II)
Pelaksanaan Siklus II pertemuan ke II dilaksanakan pada 29 November 2012 dengan pedoman pada rencana pembalajaran. Pembalajaran pada siklus I berlangsung selama 2 x 40 menit. Kegiatan yang dilakukan pada pembelajaran ini meliputi :
a. Kegiatan awal
1. Melakukan apersepsi dan memberikan motivasi
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran
3. Menjelaskan tata cara penerapan metode demontrasi
b. Kegiatan inti
1. Guru mendemontrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan  informasi tahap demi tahap
2. Guru merencanakan dan member bimbingan pelatihan.
3. Guru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dngan baik
4. Guru mempersiapkan kesempatan untuk melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.

c. Kegiatan akhir
1. Guru bersama peserta didik menarik kesimpulan tentang materi yang dipelajari.
2. Guru memberikan evaluasi individu.

4.1.2.8 Aktivitas Belajar Peserta Didik
            Aktivitas belajar peserta didik dapat dilihat pada tabel V dibawah ini :
Table V Aktivitas belajar peserta didik selama proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi pada siklus II

Elemen aktivitas
Ketercapaian (%)
Keterangan
1.      Bertanya/ mengemukakan pendapat
83,9%
B
2.      Menjawab pertanyaan
86,4%
B
Rata-rata
23%
SB


Keterangan :
SB       : P1 ≥ 90%
B         : 80% ≤ P1< 90%
C         : 60% ≤ P1 < 80%
K         : 50% P1 < 60%
SK       : P1 < 50%

Berdasarkan hasil analisis,maka dapat diuraikan sebagai berikut:

1.   Elemen bertanya/mengemukakan pertanyaan
Pada elemen bertanya/mengemukakan pertanyaan, elemen aktivitas ini mempunyai 3 indikator yaitu peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat sekali, peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat dua kali dan peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat 3 kali. Hasil analisis observasi aktivitas belajar peserta didik diketahui mengalami peningkatan dari siklus I yaitu dari 66,6% menjadi 83,9%. Hal ini dikarenakan sudah dilakukan refleksi pada siklus I.
2.      Elemen menjawab pertanyaan
Pada elemen menjawab pertanyaan, elemen aktivitas ini mempunyai 3 indikator yaitu peserta didik menjawab 1 pertanyaan dengan benar, peserta didik mampu menjawab 2 pertanyaan dengan benar, dan peserta didik mampu menjawab 3 pertanyaan dengan benar. Hasil analisis observasi aktivitas menjawab pertanyaan diketahui mengalami peningkatan dari 62,9% menjadi 86,4%. Hal ini disebabkan karena peserta didik bersungguh-sungguh mencari jawaban dari tugas yang diberikan guru. Mereka sudah tidak main-main lagi karena sudah mengerti akan pentingnya ilmu terutama dalam pembelajaran IPS.
Aktivitas belajar peserta didik pada siklus tindakan II yang terkait dengan penggunaan metode demontrasi yaitu suatu upaya atau praktek dengan menggunakan peragaan yang di tujikan pada siswa yang tujuannya ialah agar supaya semua siswa lebih mudah dalam memahami materi pembelajaran .



4.1.2.9 Hasil Belajar Peserta Didik
Dalam pembelajaran dengan menggunakan metode demontrasi setiap akhir siklus tindakan dilaksanakan tes individu, hal ini untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap materi yang sudah disampaikan dan untuk mengetahui tingkat perkembangan ketercapaian belajar peserta didik setelah diajar dengan metode pembelajaran demontrasi. Soal tes individu berupa 5 butir soal isian.
Hasil tes individu siklus tindakan II menunjukkan bahwa dari 27 peserta didik terdapat 24 peserta didik yang mencapai skor 70 atau lebih atau dapat diakatakan telah tuntas belajar. Sedangkan untuk ketuntasan belajar klasikal sebesar 88%. Seorang peserta didik dikatakan tuntas belajar apabila 75% peserta didik di kelas tersebut mencapai skor 70 atau lebih. Hal ini telah sesuai dengan criteria minimum (KKM) yang telah ditetapkan oleh MTs al-Amanah.
Table VI rekapitulasi nilai harian peserta didik pada siklus II
No
Nilai
Siklus II
Jumlah Peserta Didik
Pesrsentase ( % )
1
≥ 70
25
92,6 %
2
< 70
2
7,4 %
Jumlah
27
100 %

4..2  Analisis data                    
1)      Pelaksanaan (13 Nopember 2012)
b.      Pelaksanaan penelitian di mulai dengan observasi untuk mengetahui aktivitas belajar peserta didik sebelum dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi selama 10 menit.
c.       Kegiatan penelitian di awali dengan pembelajaran guru tentang cara dan tujuan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi dengan merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan.
d.      Guru menjelaskan sedikit tentang materi pelaku ekonomi.
2)      Observasi atau pengamatan (13 Nopember 2012)
Untuk mengetahui aktivitas belajar peserta didik selama proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi dilakukan observasi kepada peserta didik kelas VIII A yang berjumlah 27 peserta didik dengan bantuan 2 observasi yang merupakan guru praktikan dengan elemen aktivitas yang diamati meliputi: 1) Bertanya/menjawab pertanyaan, 2) Melibatkan diri dalam kelompok, 3) Diskusi, dan 4) Menjawab pertanyaan. Aktivitas belajar peserta didik dalam pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi.
Berdasarkan hasil analisis, maka dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Elemen bertanya/mengemukakan pendapat
Pada elemen bertanya/mengemukakan pendapat, elemen ini mempunyai 3 indikator yaitu peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat sekali, peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat dua kali dan peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat 3 kali. Hasil analisis observasi aktivitas belajar peserta didik pada tindakan siklus 1 diketahui bahwa pada indikator peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat sekali terdapat 9 skor. Pada indikator peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat dua kali terdapat 18 skor. Sedangkan pada indikator peserta didik bertanya / mengemukakan pendapat 3 kali terdapat 27 skor. Jadi aktivitas ini prosentasenya adalah 66,6%.

2.      Elemen menjawab pertanyaan
     Pada elemen aktivitas menjawab pertanyaan, elemen aktivitas ini mempunyai 3 indikator yaitu peserta didik menjawab satu pertanyaan dengan benar, peserta didik mampu menjawab dua pertanyaan dengan benar, dan peserta didik mampu menjawab tiga pertanyaan dengan benar. Hasil analisis aktivitas diketahui bahwa pada indikator peserta didik menjawab satu pertanyaan dengan benar terdapat 7 skor, pada indikator peserta didik mampu menjawab dua pertanyaan dengan benar terdapat 32 skor, sedangkan pada indikator peserta didik mampu menjawab 3 pertanyaan dengan benar terdapat 12 skor. Hasil prosentase elemen ini yaitu 62,9%.



Tabel IX Aktifitas belajar peserta didik selama proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi pada siklus 1
Elemen aktivitas
Ketercapaian (%)
Keterangan
1.      Bertanya/ mengemukakan pendapat
66.6%
C
2.      Menjawab pertanyaan
62,9%
C
Rata-rata
17,5%
B

Keterangan :
SB       : P1 ≥ 90%
B         : 80% ≤ P1< 90%
C         : 60% ≤ P1 < 80%
K         : 50% P1 < 60%
SK       : P1 < 50%

Berdasarkan permasalahan tersebut, aktivitas belajar peserta didik dalam pembelajaran Ips dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi perlu ditingkatkan. Meskipun pada indikator-indikator  elemen aktivitas yang lain sudah ada yang mencapai 71,6%.
Lembar observasi aktivitas peserta didik sebelum tindakan dapat dilihat pada lampiran

3)      Ketuntasan belajar peserta didik dalam penggunaan metode pembelajaran demontrasi
Dalam pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi setiap akhir siklus tindakan dilaksanakan tes individu, hal ini untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap materi yang sudah disampaikan. Dan untuk mengetahui tingkat perkembangan ketercapaian belajar peserta didik setelah menggunakan pembelajaran demontrasi. Soal tes individu berupa 5 butir soal isian.
Hasil tes individu pada tindakan siklus 1 menunjukkan bahwa dari 27 peserta didik mencapai skor 70 atau lebih, atau dapat dikatakan telah tuntas belajar. Sedangkan untuk ketuntasan  belajar peserta didik maksimal sebesar 100% seorang peserta didik dikatakan tuntas belajar apabila talah mencapai skor 70 atau lebih, suatu kelas dikatakan tuntas belajar apabila 75% peserta didik di kelas tersebut mencapai skor 70 atau lebih. Hal ini sesuai dengan Kreteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan oleh MTs al-Amanah.
Tabel X rekapitulasi nilai harian peserta didik pada siklus 1
Jumlah
Skor rata-rata
Ketuntasan klasikal
1883
69
59,2%
Analisis belajar peserta didik pada siklus I dapat dilihat pada lampiran
4)  Refleksi tindakan I (23 Nopember 2012)
Sestiap akhir siklus dilakukan refleksi tindakan yang didasarkan pada hasil observasi untuk diambil langkah-langkah perbaikan pada siklus berikutnya. Tujuannya agar terjadi proses pembelajaran yang lebih baik lagi.
Berdasarkan paparan data hasil siklus tindakan I, dapat direfleksikan bahwa aktivitas belajar peserta didik terutama indikator peserta didik tidak pernah diskusi sama sekali terdapat 11 skor, yang tergolong taraf keberhasilan Cukup masih perlu ditingkatkan untuk bisa ke tingkat baik.
Permasalahan yang perlu dibenahi yaitu peserta didik belum terbiasa dengan penggunaan metode pembelajaran demontrasi yang menekankan peserta didik untuk belajar aktif dan berfikir kreatif dalam memperlajari suatu materi pelajaran.
Setelah dilakukan diskusi dengan guru bidang studi dan peneliti, maka diambil rencana perbaikan tindakan untuk siklus II.
3. Ketuntasan belajar peserta didik dalam pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi
Dalam pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi setiap akhir siklus tindakan dilaksanakan tes individu, hal ini untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap materi yang sudah disampaikan dan untuk mengetahui tingkat perkembangan ketercapaian belajar peserta didik setelah diajar dengan metode pembelajaran demontrasi. Soal tes individu berupa 5 butir soal isian.
Hasil tes individu siklus tindakan II menunjukkan bahwa dari 27 peserta didik terdapat 24 peserta didik yang mencapai skor 70 atau lebih atau dapat diakatakan telah tuntas belajar. Sedangkan untuk ketuntasan belajar klasikal sebesar 88%. Seorang peserta didik dikatakan tuntas belajar apabila 75% peserta didik di kelas tersebut mencapai skor 70 atau lebih. Hal ini telah sesuai dengan kriteria minimum (KKM) yang telah ditetapkan oleh MTs al-Amanah.
Table XII rekapitulasi nilai harian peserta didik pada siklus II
Jumlah
Skor rata-rata
Ketuntasan klasikal
1962
72
92%
Analisis belajar peserta didik pada siklus II dapat dilihat pada lampiran 11

4.3      Pembahasan / Interprestasi
4.3.1        Aktivitas belajar peserta didik sebelum menggunakan metode pembelajaran demontrasi.
Berdasarkan hasil analisis aktivitas belajar peserta didik sebelum menggunakan metode pembelajaran demontrasi menunjukkan taraf keberhasilan rendah dibandingkan setelah pembelajaran menggunakan metode pembelajaran demontrasi. Yang dapat dianalisis bahwa pada elemen bertanya/mengemukakan pendapat prosentase aktivitas peserta didik hanya mencapai 53%, dan elemen menjawab pertanyaan prosentasenya sebanyak 53%.
4.3.2        Aktivitas belajar peserta didik dalam penggunaan metode pembelajaran demontrasi
Berdasarkan hasil nilai analisis aktivitas peserta didik yang dilakukan setiap siklus tindakan dalam penggunaan metode pembelajaran demontrasi terhadap aktivitas belajar dan ketuntasan belajar peserta didik menunjukkan peningkatan yang sangat baik, ditunjukkan pada tabel XIII
Tabel XIII Daftar rekapitulasi aktivitas belajar peserta didik
Elemen Aktivitas
Siklus Belajar
Keterangan
Sebelum
Siklus

I
II
1.   Bertanya/mengemukakan pendapat
2.   Menjawab pertanyaan
53%

53%
66,6%

62,9%
83,9%

86,4%
SB

SB
Rata-rata
14.3%
17,5%
23%
SB
Keterangan :
SB       : P1 ≥ 90%
B         : 80% ≤ P1< 90%
C         : 60% ≤ P1 < 80%
K         : 50% P1 < 60%
SK       : P1 < 50%

Berdasarkan tabel XIII akan dibahas tentang persamaan, perbedaan dan perubahan hasil observasi elemen aktivitas belajar peserta didik dalam pemebelajaran dengan metode pembelajaran demontrasi dari 2 siklus tindakan yang telah dilakukan, meliputi:
1.         Elemen bertanya/mengemukakan pendapat
Pada elemen aktivitas bertanya atau mengemukakan pendapat, elemen ini mempunyai 3 indikator yaitu peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat sekali, peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat dua kali dan peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat tiga kali. Hasil analisis observasi belajar pada indikator peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat sekali tampak pada siklus I sebanyak 9 skor, siklus II sebanyak 2 skor. Pada indikator ini mengalami penurunan. Pada indikator peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat dua kali  tampak pada siklus I diperoleh 18 skor, siklus II diperoleh 18 skor. Dalam indikator ini tidak mengalami peningkatan. Pada indikator peserta didik bertanya/mengemukakan pendapat tiga kali pada siklus I sebanyak 27 skor, siklus II mengalami peningkatan signifitas sebanyak 48 skor.
2.      Elemen menjawab pertanyaan
Pada elemen menjawab pertanyaan, elemen ini mempunyai 3 indikator yaitu peserta didik menjawab 1) pertanyaan dengan benar, peserta didik mampu menjawab. 2) pertanyaan dengan benar dan peserta didik menjawab 3 pertanyaan dengan benar. Hasil analisis observasi aktivitas belajar peserta didik pada indikator peserta didik menjawab 1 pertanyaan dengan benar pada siklus I terdapat 7 skor, pada siklus II terdapat 2 skor. Pada indikator peserta didik mampu menjawab 2 pertanyaan dengan benar pada siklus I terdapat 32 skor sedangkan pada siklus II terdapat 14 skor, dan pada indikator peserta didik mampu menjawab 3 pertanyaan dengan benar pada siklus I terdapat 12 skor dan pada siklus II terdapat 54 skor.
Berdasarkan hasil analisis aktivitas belajar peserta didik di atas diketahui bahwa penggunaan metode pembelajaran demontrasi dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik. Hal ini dapat dibandingkan dari aktivitas sebelum dan sesudah pembelajaran dari peningkatan persiklus.
Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa aktivitas seorang peserta didik akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya, yaitu semakin tinggi aktivitas peserta didik maka semakin tinggi pula prestasi belajar dalam bidang studi IPS. Begitu pula sebaliknya semakin rendah tingkat aktivitas belajar, maka prestasi dalam bidang studi biologi juga semakin rendah

2.3.3        Ketuntasan belajar peserta didik dalam pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi
Berdasarkan hasil belajar peserta didik sebelum pembelajaran dengan menggunakan metode demontrasi pada kompetensi dasar sistem gerak pada manusia menunjukkan hasil yang rendah dengan nilai rata-rata 63,4. hal ini disebabkan guru dalam KBM sering menggunakan metode ceramah sehingga membuat peserta didik pasif dan cepat bosan dengan materi tersebut.
Pelaksanaan tes akhir siklus dilakukan selama 15 menit pada setiap akhir siklus. Dari hasil tersebut setiap siklus ada peningkatan. Diketahui bahwa hasil belajar peserta didik dapat dikatakan baik dengan ketuntasan klasikal 100%. Semua peserta didik tuntas dalam belajar dengan nilai terendah yang dicapai peserta didik adalah 70 dan nilai tertinggi adalah 100. peningkatan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi dapat meningkatkan prestasi belajar IPS, dimana angka tersebut sudah menunjukkan ketercapaian ketuntasan belajar klasikal.
Seorang peserta didik dikatakan tuntas apabila teleh mencapai skor 70 atau lebih dan kelas tersebut dikatakan tuntas belajar apabila 75% peserta didik di kelas tersebut mencapai skor 70. hasil tes tindakan I menunjukkan bahwa dari 27 peserta didik terdapat 16  peserta didik yang mencapai skor 70 lebih. Tes siklus tindakan I diperoleh skor 1883 dengan ketuntasan 59%. Hasil dari siklus tindakan II diperoleh skor 1962 dengan ketuntasan 95%. Analisis hasil belajar peserta didik dari sebelum tindakan hingga tindakan pada siklus II disajikan dalam tabel XIV

Tabel XIV Hasil belajar peserta didik

Sebelum Tindakan
Siklus I
Siklus II
Jumlah
1777
1883
1962
Skor rata-rata
65
69
72
Ketuntasan Klasikal
11%
59%
92,5%

Hasil ini sesuai dengan pernyataan Sadirman (1990: 40) bahwa tercapainya tujuan pembelajaran/hasil pengajaran itu sangat dipengaruhi oleh bagaimana aktivitas peserta didik di dalam belajar dan motivasi sebagai pendorong usaha dalam pencapaian prestasi.

2.3.4        Kesan (respon) peserta didik tentang metode pembelajaran demontrasi
Jawaban yang diberikan peserta didik dapat diuraikan bahwa seluruh peserta didik dapat merasa sangat senang belajar dengan menggunakan metode pembelajaran demontrasi. Peserta didik berpendapat bahwa dengan adanya pembelajaran metode  demontrasi , peserta didik terdorong untuk mengusai materi pelajaran IPS secara mendalam, peserta didik lebih aktif dari pada pembelajaran biasa, peserta didik lebih semangat dengan belajar kelompok. Dengan adanya metode pembelajaran demontrasi peserta didik dapat menjawab atau mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh. Selain itu, peserta didik lebih berani untuk mengemukakan pendapatnya. Dengan demikian kegiatan pembelajaran metode demontrasi ini sangat membantu peserta didik dan peserta didik tidak cepat merasa bosan.
Dari penjabaran analisis hasil/respon peserta didik di atas, dapat disimpulkan bahwa peserta didik lebih senang belajar IPS melalui penggunaan metode demontrasi. Subiyanto (1998) menyatakan dalam penelitian bahwa pelajaran, metode dan penggunaan model di tentukan oleh tujuan. Begitu juga penentuan evaluasi ditentukan oleh model dan tujuan.




BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1              Simpulan
Berdasarkan paparan dan pembahsan data hasil penelitian tentang aktivitas belajar dan ketuntasan belajar peserta didik Ips kelas VIII A dengan metode pembelajaran demontrasidi MTs al-Amanah dari 2 siklus tindakan, dapat disimpulkan bahwa:
1.      Penggunaan metode pembelajaran demontrasi dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik pada mata pelajaran IPS kelas VIII semester I dengan kompetensi dasar mendeskripsikan pelaku ekonomi rumah tangga, masyarakat, perusahaan, koperasi dan negara di MTs. Al-Amanah tahun pelajaran 2011-2012 di MTs. Al-Amanah kec. Besuki Kab. Situbondo.
2.       Penggunaan metode pembelajaran demontrasi dapat meningkatkan hasil  belajar peserta didik pada mata pelajaran IPS kelas VIII semester I dengan kompetensi dasar mendeskripsikan pelaku ekonomi rumah tangga, masyarakat, perusahaan, koperasi dan negara di MTs. Al-Amanah tahun pelajaran 2011-2012 di MTs. Al-Amanah kec. Besuki Kab. Situbondo.

5.2              Saran
Adapun beberapa saran yang bisa peneliti sampaikan sehubungan dengan dengan judul penelitian “penerapan metode demonstrasi untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran IPS kelas VIII semester I dengan kompetensi dasar mendeskripsikan pelaku ekonomi rumah tangga, masyarakat, perusahaan, koperasi dan negara di MTs. Al-Amanah tahun pelajaran 2011-2012 di MTs. Al-Amanah kec. Besuki Kab. Situbondo.” yang kiranya menjadi bahan pertimbangan untuk perbaikan proses pembelajaran, yaitu:
55
1. Mengingat metode pembelajaran demontrasi sangat efektif untuk meningkatkan aktivitas belajar dan ketuntasan belajar peserta didik, maka model pembelajaran ini dapat digunakan dengan variasi model pembelajaran kooperatif.
2. Penelitian ini dilakukan hanya sebatas kepada peserta didik kelas VIII A MTs al-Amanah, maka peneliti menyarankan agar peneliti lain lebih memperluas subyek yang melibatkan sekolah-sekolah yang mempunyai prestasi lebih heterogen.



DAFTAR PUSTAKA

Arikonto, Suharsimi. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi pendidikan. Bumi Aksara. Jakarta.

Azwar, Saifuddin. 1995. Sikap manusia Teori dan Pengukurannya; Edisi ke 2. Pustaka belajar, Yogyakarta.

Dimyati dan Mujiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Frazee, Bruce and Rudnistko, Rose. 1995. Integrated Teaching Methods; Theory, Classroom Aplications and Fields-based Connections. New York: Delmar Publisher.

Hamalik Oemar. 2001. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta : Bumi Aksara.

Hartantin, Jatu.2004. Penerapan Pembelajaran Kooperatif

Ibrahim, Dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya

Kemmis, S & Taggart, M.C. 1992. The action research Planner, Victoria: Deakin Unevercity Press

Lie, Anita. 2002 Cooperatif Learning; Mempraktikkan coperatife Learning di Ruang-Ruang kelas. Gramedia WidiasaranaIndonesia, Jakarta.

Nur, M. 2005. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Departemen Pendidikan Nasional

Slavin, R. E. 1995. Cooperative Learning : Theory, Research, practice. Boston: Allyn and bacon.

Sukarnyana, I. 2002. Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Proyek penigkatan pusat pengembangan penataran guru malang.